Yan Anton Terancam Hukuman Seumur Hidup

SIDANG PERDANA : Bupati Banyuasin non aktif Yan Anton Ferdian menuju ruang sidang di Pengadilan Tipikor Palembang ,Kamis (19/1). Yan terancam hukuman seumur hidup karena dijerat Pasal 12 b UU No 20 thn 2001 tentang Pemberantasan Tipikor. Foto/Ria

 

Palembang – Bupati Banyuasin non aktif Yan Anton Ferdian (YAF) didakwa menyalahgunakan jabatannya dan menerima suap dari seorang pengusaha terkait proyek di Dinas Pendidikan (Disdik) Banyuasin, pada sidang perdana di Pengadilan Tipikor Palembang, Kamis (19/1).

Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Roy Riady mengungkapkan, terdakwa melalui Kirman (Direktur dan PT Aji Sai/Rekanan Pemkab Banyuasin) menerima uang dari pengusaha Zulfikar terhitung sejak 2014 hingga pertengahan 2016. Uang yang totalnya mencapai Rp6,1 miliar itu diberikan Zulfikar supaya perusahaanya bisa mendapatkan beberapa proyek yang dimiliki oleh Dinas Pendidikan Banyuasin.

Menurut JPU, sebagian uang tersebut akan digunakan untuk biaya menunaikan ibadah haji bersama istrinya. ‘’Hal itu berdasarkan bukti setoran biaya naik haji pada sebuah biro perjalanan sebesar Rp531.600.000 yang di sita dari Kirman,’’ ujar Roy di hadapan Majelis Hakin yang diketuai Arifin dengan didampingi Hakim Anggota Paluko Hutagalung dan Haridi.

Seperti diketahui terdakwa Yan Anton dimajukan ke persidangan setelah terkena operasi tangkap tangan KPK pada 4 September 2016 saat menerima suap dari Direktur CV Putra Pratama Zulfikar Muharrami yang diserahkan oleh perantara yakni Kirman (salah seorang pengusaha). Saat itu, Yan Anton menerima bukti pelunasan pembayaran haji ONH plus Rp531.031.000 atas nama dirinya dan keluarga. Dalam OTT itu, KPK juga menyita uang Rp620 juta yang merupakan uang milik Abi Hasan (Kadis PU Cipta Karya) yang berada di tangan Kirman.

Disebutkan pula, uang suap tersebut hampir seluruhnya diduga untuk digunakan kepentingan Yan Anton Ferdian, beberapa di antaranya kepentingan lebaran, naik haji, dana meloloskan APBD kepada DPRD Banyuasin, hingga saat Yan Anton dilaporkan ke aparat kepolisian perihal pinjaman uang.

Setiap kali Zulfikar memberikan uang selalu dianggap sebagai fee untuk perusahaannya ikut dalam proyek yang dimiliki Dinas Pendidikan Banyuasin. Setidaknya, ada 14 proyek yang semuanya dikerjakan oleh Zulfikar setelah sebelumnya memberikan fee kepada Yan Anton.

Saat pemberian uang, Yan Anton dan Zulfikar tidak pernah bertemu langsung karena Yan Anton selalu menugaskan orang-orang terdekatnya seperti Sutaryo (Kasi Pembangunan dan Pengembangan Pendidikan Dinas Pendidikan Banyuasin), Merki Bakri (Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin 2013-2016), dan beberapa orang lainnya.

Terdakwa Yan Anton didakwa JPU pada dakwaan kesatu pasal 12 a subsider pasal 11 jo pasal 55 KUHP UU No 20 thn 2001 tentang Pemberantasan Tipikor, dan dakwaan kedua pasal 12 b jo pasal 55 KUHP UU No 20 thn 2001 tentang Pemberantasan Tipikor. (korankito.com/Ria)