Sidang Kasus ‘Banyuasin Gate’ Hadirkan lagi Yan Anton

 

BANYUASINGATE : Bupati nonaktif Yan Anton memberikan kesaksian dalam sidang kasus Banyuasingate dengan terdaksa Zulfikar, Kamis (12/1). Foto/Ria

Palembang – Sidang kasus ‘Banyuasingate’ kembali berlanjut, jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kali ini menghadirkan Bupati Banyuasin nonaktif Yan Anton Ferdian sebagai saksi atas terdakwa Zulfikar yang didakwa pemberi suap.

Yan Anton dihadirkan ke persidangan berserta dua saksi lainnya Rustami alias Darus yang menjabat sebagai Kepala Bagian Rumah Tangga Pemkab Banyuasin, dan Kirman yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Haji Sai di Pengadilan Tipikor Palembang, Kamis (12/1).

Sebelumnya, Yan Anton tertangkap tangan menerima suap dari Direktur CV Putra Pratama Zulfikar Muharrami pada 4 September 2016 di kediamannya yang diserahkan oleh perantara yakni Kirman. Saat itu, Yan Anton menerima bukti pelunasan pembayaran haji ONH plus Rp531,600 juta.

Kasus ini sudah memasuki ranah persidangan dengan terdakwa Zulfikar yang diduga telah menyuap Yan Anton terhitung sejak 2014 hingga pertengahan 2016. Uang yang totalnya mencapai Rp7 miliar lebih itu diberikan Zulfikar supaya perusahaannya bisa mendapatkan beberapa proyek yang dimiliki oleh Dinas Pendidikan Pemkab Banyuasin, Sumatera Selatan.

Uang suap tersebut hampir seluruhnya diduga untuk digunakan kepentingan Yan Anton Ferdian, beberapa di antaranya kepentingan lebaran, naik haji, dana meloloskan APBD kepada DPRD Banyuasin, hingga saat Yan Anton dilaporkan ke aparat kepolisian perihal pinjaman uang.

Dalam keterangan saksi Kirman terungkap uang berasal dari Sutaryo (Kasi Pembangunan dan Pengembangan Pendidikan Dinas Pendidikan Banyuasin) yang nantinya akan diberikan kepada Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian pada hari Rabu 31 Agustus malam. “Rustami memerintahkan Saya untuk mengambil uang dari Sutaryo sebesar Rp 1 miliar dan mengatakan  uang itu dari Zul (Zulfikar-red),” ungkapnya kepada majelis hakim.

Ia menyebutkan, bertemu Sutaryo di depan ruko di wilayah KM 5 utuk mengambil uang tesebut dan membawa pulang uang sembari menunggu perintah selanjutnya dari Rustami.

Selanjutnya, Rustami memerintahkan Kirman  untuk menyiapkan uang Rp 300 juta. Dimana uang tersebut dibawa ke Mariana untuk diserahkan kepada Bupati Yan Anton namun dibawa lagi ke rumah orang tua Yan Anton dikawasan Poligon. “Sampai disitu uang diserahkan dan saya tidak tahu lagi. Sedangkan sisa yang saya simpan, atas perintah Rustami saya setorkan ke Bank BCA untuk membayar ongkos haji bupati senilai Rp 500 juta lebih,” bebernya.

Setelah itu tambahnya ada juga perintah dari Rustami untuk menukarkan uang sebanyak Rp 150 juta kedalam pecahan uang dolar Amerika untuk kebutuhan bupati selama naik haji. Karena masih bersisa sedikit, jadi ada tambahan uang dari Kadis PU senilai Rp 500 juta. “Atas perintah Rustami melakui via whatsaap, uang yang saya setor ke Bank BCA itu sebesar Rp 531.600.000 atas nama Yan Anton ke rekening PT Tursina Travel,” katanya.

Jadi sisa uang yang disimpannya di dalam rumah senilai Rp 670 juta dan uang itulah yang disita KPK di rumahnya. “Setahu saya, Rustami adik dari ibu Yan Anton Ferdian. Karena itu saya mau diperintah oleh dia. Tujuannya, agar bisa mendapatkan proyek di Pemkab Banyuasin,” ungkapnya. (korankito.com/ria)