Inilah 10 Besar Kejahatan di Palembang

Ilustrasi/ist

 

Curanmor Jadi Problem Serius

Palembang – Peristiwa hukum yang terjadi di Kota Palembang cukup variatif mulai kasus kejahatan ringan hingga berat mewarnai sepanjang 2016.

Berdasarkan data perkara yang masuk di Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polresta Palembang, ada 10 besar peristiwa hukum yang menjadi catatan yakni kasus penipuan menempati posisi pertama dengan jumlah 463 kasus, disusul penggelapan 393 kasus, diurutan ketiga kejahatan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) 278 kasus, kemudian peristiwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 245 kasus, lalu pencurian berat 226 kasus, pencurian ringan 127 kasus, pencurian dengan kekerasan 123 kasus, pengeroyokan 137 kasus, penganiayaan berat 117, dan persoalan sengketa tanah 80 kasus.

Menariknya, dari 10 besar peristiwa hukum tersebut kasus pencurian (curat, curas, pencurian ringan serta curanmor) ternyata mendominasi dengan 752 kasus atau 35 persen dari 2.189 kasus yang terjadi di Bumi Sriwijaya.

Data reskrim Polresta menyebutkan, pada empat kejahatan pencurian rupanya curanmor masih menjadi problem serius karena telah terjadi 278 kasus. Perkara yang masuk reskrim mengungkapkan, di triwulan pertama 2016 telah terjadi 83 curanmor, triwulan kedua 89 kasus, triwulan ketiga 69 dan tiga bulan terakhir pada 2016 telah terjadi 37 kasus.

Catatan Koran Kito melihat, rata-rata telah terjadi enam kendaraan raib dalam sepekan sepanjang tahun ini.

Untuk kasus curanmor yang terjadi di Kota Palembang, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Palembang mampu mengungkap 32 kasus.

Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Marully Pardede mengaku, kesulitan mengungkap kasus pencurian kendaraan bermotor. Pasalnya, para pelaku curanmor mencari sasarannya yang tidak terpantau oleh korbannya. “Penyelidikan atau ungkap kasus curanmor cukup sulit karena pertama pelaku akan mencari sasaran motor yang tidak berada dalam pengawasan pemilik maupun warga sekitar, jadi penyidik harus melakukan penyelidikan dari awal,” ungkapnya saat dimintai konfirmasi, Jum’at (30/12) siang.

Kendati demikian, pihaknya terus melakukan upaya preventif terhadap kasus curanmor yang terjadi dengan cara melakukan razia. “Biasanya setelah memetik (mengambil barang- red) para pelaku ini tidak melawati jalur-jalur utama, mereka mencari jalur aman terlebih dahulu, ini merupakan pengakuan beberapa tersangka yang sudah kita tangkap,” tambah Marully.

Marully mengimbau kepada masyarakat, agar tetap waspada terhadap kasus pencurian kendaraan bermotor. “Kita imbau, apabila pergi meninggalkan kendaraan bermotor diharapkan memasang kunci ganda, titipan dengan orang yang dikenal dan apabila mengalami tindak pidana, untuk segara melaporkan di aplikasi Ampera, agar operator akan mengirim petugas terdekat ke TKP, untuk memangkas jeda waktu yang ada,” tutupnya. (korankito.com/denny)