Bisa Dipercaya

IGI SUMSEL: Ujian Nasional 2017 Timbulkan Kesenjangan

UJIAN NASIONAL: Sejumlah siswa sekolah menengah atas tengah menjalani ujian nasional, beberapa waktu silam. Ikatan Guru Indonesia menilai ujian nasional 2017 dapat menimbulkan kesenjangan pada guru mata pelajaran. Foto/Republika

 

Palembang – Kebijakan terbaru Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemdikbud) mengenai kebebasan siswa memilih satu mata pelajaran (mapel) jurusannya untuk diujikan dalam ujian nasional (UN), disinyalir dapat menimbulkan kesenjangan bagi guru yang bersangkutan

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) Aswin, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait pelaksanaan UN 2017 yang membebaskan siswa untuk memilih satu mapel jurusannya masih rancu. Pasalnya, kebijakan yang dinilainya diputuskan secara tergesah-gesah ini akan sangat berdampak bagi guru bidang studi di sekolah. “Yang menjadi ujung tombak dan pemikul kebijakan baru ini jelas adalah guru. Dengan dibebaskan siswa memilih satu pelajaran jurusan UN, jelas akan terjadinya penumpukkan pilihan pelajaran tertentu disetiap jurusan di SMA/SMK terkait,” ungkapnya, Rabu (28/12).

Berita Sejenis

SMAN 10 Palembang Jawab Tantangan Kadisdik Sumsel 

Polsri Gelar EDS Kedelapan

17 Lembaga Pendidikan Empatlawang Diajukan Akreditasi

1 daripada 17

Menurutnya, yang ditakutkan adalah siswa memilih pelajaran bukan berdasarkan kemampuan dirinya bidang studi tersebut, melainkan kerena mereka menyukai cara mengajar guru tersebut. “Kepribadian guru juga menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi siswa dalam menentukan pilihannya. Sangat riskan dan besar resikonya jika siswa memilih berdasarkan kepribadian dan cara mengajar guru saat di kelas bukan berdasarkan mapel yang dikuasainya,” tambahnya.

Hal senada dikatakan oleh Dewan Pendidikan Sumsel Syarwani Ahmad, masalah baru pasti akan timbul dari kebijakan baru, seperti halnya kebijakan terbaru Kemdikbud yang nantinya akan ada sekat atau blok di sekolah tingkat SMA/SMK saat mempelajari mapel yang mereka pilih untuk UN. “Karena siswa bebas memilih mapel sesuai jurusannya, maka secara otomatis yang dipilih siswa akan berbeda satu dengan yang lainnya. Nantinya, akan ada pengelompokkan siswa di sekolah dalam melakukan persiapan UN dan ini akan merepotkan pihak sekolah dan guru. Belum lagi jika ada satu mapel saja yang difavoritkan siswa dan ini akan menjadi masalah besar, jika di sekolah tersebut kekurangan guru bidang studi tersebut,” tukas Rektor Universitas PGRI Palembang itu.(korankito.com/Eja)