Bisa Dipercaya

TPID Sumsel Perkuat Pengendalian Inflasi 2017

RAPAT INFLASI – Plt. Sekda Provinsi Sumsel Joko Imam Sentosa saat memimpin rapat pengendalian inflasi daerah di hotel Arista Palembang, Rabu (28/12).

Palembang – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Selatan kembali menggelar rapat rutin bulanan membahas kondisi inflasi Sumsel dibulan November- Desember 2016, evaluasi capaian pengendalian inflasi Sumsel, serta pengembangan dan penguatan pengendalian inflasi Sumsel di tahun 2017 mendatang.

Rapat ini dipimpin langsung Plt. Sekda Provinsi Sumsel Joko Imam Sentosa, hadir juga Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cabang Palembang serta seluruh stakeholder yang tergabung dalam TPID Provinsi Sumsel. Rapat berlangsung di Hotel Arista Palembang, Rabu (28/12).
Plt. Sekda Provinsi Sumsel Joko Imam Sentosa mengatakan, seperti diketahui bersama bahwa TPID memiliki peran sangat strategis sebagai tolak ukur sebuah wilayah dalam mengukur kondisi perekonomian sebuah wilayah khususnya melalui inflasi. Untuk itu, melalui rapat koordinasi diharapkan dapat memperkuat pengendalian inflasi Sumsel.

Berita Sejenis
1 daripada 3.104

“Di 2016 ini merupakan tahun strategis karna pembangunan besar-besaran berlangsung di Sumsel. Untuk evaluasi yang dibahas hari ini adalah bagaimana untuk memperkuat pengendalian inflasi di tahun 2017 mendatang diantaranyan memasukkan Dinas Koperasi Sumsel ke dalam TPID Sumsel,” ujarnya.

Sementara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cabang Palembang, Hamid Ponco Wibowo memaparkan bahwa inflasi Sumsel di Bulan November 2016 mencapai 4,14 persen (yoy) lebih rendah dibanding bulan Oktober 2016 sebesar 4,22 persen (yoy).

Secara bulanan, pada November 2016 Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,56 persen (mtm) meningkat dibanding oktober yang mengalami deflasi sebesar 0,04 persen (mtm) dan realisasi inflasi November 2016 lebih rendah dibanding tahun lalu yang inflasi sebesar 0,64 persen (mtm).

“Berbagai upaya pengendalian terus kita lakukan agar di tahun 2016 ini agar inflasi mendekati target nasional,” ungkapnya.

Hamid Ponco Wibowo menambahkan, secara kumulatif, Sumsel mengalami inflasi sebesar 2,95 persen (ytd) berada diperingkat ke-3 terendah diantara 10 Provinsi diwilayah Sumatera dan lebih tinggi dari inflasi kumulatif nasional (2,59%,ytd).

Selain itu, secara bulanan Kota Palembang menempati urutan ke-11 terendah sementara Kota Lubuklinggau berada di urutan ke-8 terendah. “Berdasarkan Survei Pemantauan Harga Bank Indonesia Minggu ke-III bulan Desember 2016 risiko inflasi Desember ini diperkirakan Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,26 persen (mtm), 3,26 persen (ytd), dan 3,26 persen (yoy),” terangnya.
Lanjut Hamid Ponco Wibowo, TPID Sumsel telah melakukan serangkaian kegiatan pengendalian inflasi di tahun 2016 ini, dimulai dari rapat TPID awal tahun, penyususnan Roadmap, Capacity Building, Roadshow ke TPID Kabupaten/Kota, mengadakan kegiatan pasar murah, pengembangan iklan layanan masyarakat, operasi pasar, warung sembako TPID, pasar penyeimbang, toko tani, pengembangan pusat Informasi harga pangan strategis (PIHPS), serta kegiatan evaluasi secara rutin.

Belum lama ini, kata Hamid Ponco Wibowo, TPID Sumsel melakukan kunjungan ke pelaku usaha olahan karet di Provinsi Jambi bertujuan untuk memberikan penularan kepada para petani karet Sumsel dalam pengelolaan karet.

“Berbagai prestasi juga sudah di raih TPID Sumsel diantaranya menjadi nominasi TPID terbaik di Sumatera tahun 2015 dan berhasil meredam tekanan inflasi bulan Juli 2016 dengan serangkaian kegiatan pengendalian,” pungkasnya. (korankito.com/rel)