1.000 Ton Sampah Menghasilkan 10 Megawatt Listrik

PLTSa – Salah satu petugas sedang melakukan pemeliharaan mesin di PLTSa Sukawinatan Palembang. Foto/ejak

Palembang – Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang melakukan sosialisasi dalam pengolahan sampah untuk dijadikan tenaga listrik di Kota Palembang. Banyaknya sampah yang dihasilkan oleh Kota Palembang menjadi salah satu cara yang bisa dipakai untuk mengurangi tumpukan sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ada di Kota Palembang.

Kendati begitu untuk merealisasikan semua itu Pemkot Palembang masih membutuhkan investor untuk mengelola sampah tesebut. “‎Mengingat adanya kepastian investasi di kota Palembang, dan memang dengan alat ini menyelesaikan permasalah sampah, pasti banyak investor yang tertarik. Bahkan untuk satu proyek ini, akan ada persaingan sekitar 80 investor,” ujar Kasubdit Sarana dan Prasarana Dirjen Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Agus Saefudin saat dibincangi usai melakukan pemaparan di ruang rapat Parameswara Setda Kota Palembang, Selasa (20/12).

Menurut Agus, dengan adanya program ini, diharapkan nantinya dapat menyelesaikan masalah sampah yang ada di kota Palembang. Pasalnya, dengan penggunaan mesin listrik ini, nantinya 1.000 ton sampah, dapat menghasilkan 10 megawatt.

“Kan tidak mungkin, di kota Palembang banyak tumpukan sampah. Setelah di TPA Sukawinatan dan TPA Karya Jaya penuh, kan tidak mungkin akan pindah lagi ke lokasi lain,

bisa-bisa penuh sampah lama-lama kota Palembang ini,” jelasnya.

Agus mengatakan, nantinya sampah yang akan diolah menjadi tenaga listrik ini, akan dipilah, dipisahkan antara sampah yang tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun, limbah, kaca, dan alumunium foil, serta beberapa bahan lainnya.

“Setelah diproses bisa menghasilkan tenaga listrik. Boleh juga tidak dipisah sampah-sampah ini, namun hasilnya tidak maksimal,” katanya.

Agus menjelaskan, proses pembuatan tenaga listrik ini sendiri bermula, dengan memilih sampah yang akan digunakan sebagai bahan, lalu diangkat menggunakan crane dan dimasukkan ke dalam tungku pembakaran dengan suhu 800 derajat celcius.

Abu hasil sisa pembakaran dibuang, dan gasnya ditangkap serta dimasukkan kedalam turbin untuk dijadikan tenaga listrik. ‎”Jadi kalori sampah ini‎, menyetarakan dengan yang dihasilkan dengan batu bara,” ungkapnya.

Tak hanya di Palembang, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah inipun akan dibangun di tujuh kota lainnya, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Solo, Semarang, dan Tetangga. “Kota ini diprioritaskan, karena banyaknya sampah di kota tersebut,” tegasnya.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Kebersihan Kota Palembang, Faizal yang setelah pelantikan menjadi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Palembang mengatakan,‎ jika sampai saat ini proses pembangunan masih disiapkan sesuai dengan isi perundang-undangan.

“Kita masih sosialisasikan, membentuk tim untuk melakukan pengkajian, sesuai dengan Perpres nomor 50 dan Permen Halaka nomor 70. Kemungkinan akan dibangun pada tahun 2018,” tukasnya. (korankito.com/ria)