Pegawai Bank Sumsel Babel Jadi Saksi Kasus Suap Yan Anton

Palembang – Sidang kasus suap Bupati Banyuasin nonaktif Yan Anton Ferdian dengan terdakwa pengusaha Zulfikar digelar di Pengadilan Negeri Klas 1 Palembang, Kamis (15/12). Dalam sidang kali ini, ada tiga saksi yang dihadirkan oleh JPU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka didengar kesaksiannya terkait transaksi keuangan yang dilakukan Zulfikar untuk mengambil uang suap yang akan diberikan kepada Yan Anton Ferdian.

Ketika saksi tersebuat adalah Sapta, pegawai Bank Sumsel Babel (BSB) Cabang Sako Kenten, Anja Riski pegawai Bank BCA Palembang, dan Samdiono yang merupakan Pegawai Harian Lepas (PHL) rumah dinas Bupati Banyuasin.

Dalam kesaksiannya, Sapta mengatakan, terdakwa Zulfikar mencairkan deposito senilai Rp2 miliar di Bank BSB Sako Kenten. Uang senilai Rp2 miliar dibagi menjadi dua bagian. Uang Rp1 miliar dimasukan ke dalam kantong plastik warna hitam.

“Untuk sisa uang Rp1 miliar yang ditarik melalui deposito, Zulfikar memasukannya ke rekening pribadinya. Semua transaksi itu tercatat di Bank Sumsel Babel Sako Kenten,” ujar Sapta.

Namun, menurut Sapta ia tidak mengetahui uang Rp 1 miliar dipergunakan untuk keperluan apa. Terlebih, uang tersebut ditarik dari deposito Zulfikar dan sebagian dibawa dan sebagian dimasukan ke rekening pribadi Zulfikar.

Sedangkan saksi Anja Rizki menuturkan, dirinya mengetahui ada transfer tabungan Zulfikar senilai Rp500 juta ke PT Dwi Sinar Buana. Tak hanya itu, menurut Anja, Zulfikar melakukan pembelian mata uang asing pecahan 100 dolar Amerika dengan nilai cukup besar.

“Ada pembelian mata uang dollar senilai 11.200 US Dolar yang dibeli Zulfikar atas nama Firmansyah,” katanya.

Sementara itu Samdiono mengaku, sebelum Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian berangkat haji, ia sempat menerima bingkisan dari Rustami yang dibungkus dalam kantong plastik warna hitam. Semula, ia tidak mengetahui bila bingkisan yang terbungkus kantong plastik warna hitam merupakan uang.

Bingkisan tersebut baru diketahui berisikan uang, setelah penyidik KPK melakukan OTT usai acara syukuran keberangkatan haji Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian bersama istri.

“Memang sebelum OTT KPK, saya menerima bingkisan plastik warna hitam dari Rustami. Katanya ini untuk Bupati Yan Anton. Karena untuk bupati, jadi saya letakan di lemari kerja bupati yang ada di rumah dinas bupati. Selang beberapa lama, KPK datang dan melakukan OTT,” ujarnya.

Usai melakukan OTT, penyidik KPK membawa Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian, Sekda Banyuasin Firmansyah dan Rustami dibawa penyidik KPK ke Palembang. Setelah itu, ia tidak mengetahui lagi dan mendapat kabar bila Bupati Banyuasin telah ditetapkan sebagai tersangka karena telah menerima suap.korankito.com/ria