Harga Cabai di Palembang Paling Mahal

Palembang  – Harga kebutuhan pokok khususnya cabai di kota Palembang perlu diwaspadai. Pasalnya, harga cabai yang mencapai Rp 75 ribu ternyata lebih tinggi dari rata-rata harga nasional yang hanya sebesar Rp 48 ribu.

Tingginya harga cabai di Palembang ini diketahui setelah pemantauan yang dilakukan Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI disejumlah pasar tradisional di Palembang, Senin (12/12).

Sekertaris Jenderal Kementerian Perdagangan RI, Srie Agustina bersama Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatra Selatan, Permana mendatangi tiga pasar tradisional yakni Pasar Cinde Palembang, Pasar KM 5 Palembang dan Pasar Sekanak Palembang.
Srie Agustina mengatakan, pemantauan harga di sejumlah pasar di seluruh Indonesia ditujukan memantau ketersediaan stok dan juga kondisi barang kebutuhan pokok. Karena menjelang natal dan tahun baru.

“Sebetulnya dari pengalaman tahun sebelumnya, biasanya menjelang Natal dan tahun baru, harga tidak terlalu bergejolak. Namun, memang untuk memastikan apakah stok cukup dan kemudian harga terjaga, maka saya tadi melakukan pemantauan ditiga pasar,” terangnya.

Menurutnya, sidak yang dilakukan di Cinde, Pasar Palimo, dan Pasar Sekanak. Karena, ketiga pasar ini adalah pasar pantaun dari kemendag. Kami selama ini melakukan pemantauan di 165 pasar dari 34 provinsi.

“Secara umum, harga rata rata barang kebutuhan pokok ditingkat nasional relatif stabil. Karena, beras turun. Penurunannya sampai 2 persen, beras, tepung terigu, kedelai. Kalau dibandingkan dengan seminggu yang lalu, itu relatif stabil. Daging ayam, sapi semuanya relatif stabil,” imbuhnya.
Dari hasil pemantauan tersebut, komiditas yang kelihatan sedikit meningkat harga daging ayam, dan cabai. Dibandingkan sebulan yang lalu. Tetapi, dibandingkan seminggu yang lalu, harga daging ayam dan cabe mulai turun. Cabe mulai turun antara 2-3 persen.

“Namun, dibeberapa kota khususnya di Kota Palembang. Tadi saya lakukan pemantauan. Cabe itu ternyata jauh lebih tinggi dari harga rata-rata nasional yang hanya Rp 48ribu tadi saya pantau di Pasar Cinde sampai Rp 75 ribu. Walaupun harga ini sudah mulai menurun, sebelumnya seminggu yang lalu Rp 90 ribu katanya. Tapi sekarang sudah menurun Rp 75 ribu. Namun, masih lebih tinggi dari harga rata-rata nasional,” ungkapnya.

Penyebabnya, menurut Srie, pertama musim penghujan panen tidak optimal. Kedua, terjadi susut angkut.  Maksudnya, hampir beberapa kabupaten pemasok cabe ke kota Palembang, dari Lubukinggau, Pagaralam, OKUT itu jalannya rusak.

Kondisi jalan yang rusak, menyebabkan pengangkutan semakin lama. Kemudian biaya semakin mahal. Hal inilah yang menurut Srie menjadi penyebab harga cabe di Kota Palembang relatif lebih tinggi dari rata-rata nasional.

“Dalam rangka menghadapi natal dan tahun baru. Kami memastikan stok cukup dan harga relatif stabil, kalaupun naik sekitar 2 persen,” ucapnya.

Harga komoditi gula pasir di Kota Palembang telah mengalami penurunan dari Rp 15 ribu menjadi Rp 14 ribu. Kemudian, minyak goreng relatif stabil. Menurut Srie, kalaupun naik itu dari produsennya, karena menyesuaikan dengan harga cpo diluar negeri.

“Tetapi, Pak Menteri mengatakan, kalau bisa harga ditahan dulu. Jangan ngikutin harga CPO di luar negeri. Jadi, harapannya harga minyak akan tetap terus stabil,” ulasnya.

Selanjutnya, harga beras yang kualitasnya medium rata-rata nasional Rp 10.800, di Palembang cuma Rp 9.500 sampai dengan Rp 10 ribu. Harga tersebut masih jauh lebih rendah dari rata-rata nasional.

“Jadi, di Palembang itu yang perlu diwaspadai adalah cabe, yang lainnya relatif cukup dan stabil,” tegasnya. (korankito.com/ria)