Pungli, TKS Dishub Diciduk Reskrim

Palembang- Petugas honorer Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang Ariyanto (22) diciduk Satreskrim Polresta Palembang. Remaja yang tinggal di Jalan Purwo, Kelurahan Sei Selincah, Kecamatan Kalidoni, Palembang ini ditangkap lantaran terlibat aksi pungutan liar (pungli).

Ariyanto diciduk usai mengambil retribusi angkutan kota (angkot) jurusan Ampera-Km5 di Jalan Masjid Lama, tepatnya di depan Toko Jaya Raya, Kelurahan 16 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) I, Palembang, Sabtu (10/12) sekitar pukul 17.00 kemarin.

Menurut pengakuan tersangka, ia sudah tiga tahun bekerja di Dishub Kota Palembang sebagai tenaga honorer. Biasanya, sehari-hari ia menarik uang retribusi sebesar Rp 3.000 dari sopir angkot jurusan Ampera-Km5 di dan Talang Betutu-Wayhitam.

“Kalau pagi di depan pasar Km 5, siang pindah ke depan Jaya Raya. Sudah tiga tahun, jadi honorer di Dishub. Setiap hari kerjaan saya hanya mengambil uang-uang retribusi, satu karcis seharga Rp 3 ribu,” ucap tersangka saat ditemui di ruang piket Satreskrim Polresta Palembang, Minggu (11/12) sore.

Dari menarik uang retribusi, biasanya ia mendapatkan uang sebesar Rp 400 ribu bahkan lebih. Lalu, uang tersebut di setorkan kepada JH sebesar Rp 335 ribu, sementara sisa uang tersebut masuk ke kantong pribadinya.

“Saya tidak punya gaji di sana, gaji saya ya dari penghasilan menarik uang itu. Biasanya dapat uang Rp 400 ribu, kadang lebih, wajib disetorkan sebesar Rp 335 ribu, sisanya untuk saya. Kadang saya dapat Rp 80 ribu, kadang lebih, tidak tentu,” tambahnya.

Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Maruly Pardede mengatakan pihaknya sudah mengamankan pelaku. “Saat ini, pelaku berinisial A masih dalam pemeriksaan dan dimintai keterangan oleh anggota kita,” ujar Marully.

Sementara, Kepala Dishub Kota Palembang Sulaiman Amin ketika dimintai konfirmasi mengatakan, tidak digaji hanya sekedar alasan oknum tersebut. Menurutnya, sudah berulang kali dirinya menyampaikan jika mengambil uang trayek angkot harus memberikan karcis.

“Ada karcis, ada uang dan semuanya sudah sesuai dengan SOP. Nah, kalau ada oknum yang terlibat demikain, dapat dikenakan sanksi administrasi penurunan pangkat bahkan bisa dipecat. Akan tetapi, kita akan melihat terlebih dahulu kesalahannya,” ucapnya.

Setiap pemberian karcis kepada angkot, sesuai dengan jumlah angkot yang lewat dan semuanya dihitung. Jadi setiap pemberian karcis, sudah pasti akan uangnya, namun jika tidak mempunyai karcis, para sopir hendaknya jangan memberikan uang kepada petugas.

” Ada data jumlah angkot yang lewat, sehingga menurunkan angka pungli. Dan memang ada pembukuan untuk karcis – karcis yang diberikan pada angkot. Untuk oknum yang ditangkap dia bukan honorer tetapi, Tenaga Kerja Sukarela (TKS) dan memang tidak ada gaji, kalau honorer digaji Rp 1,5 juta,” tegasnya. (korankito.com/denny)