Orangtua Diminta Percayakan Anaknya Pada Guru

 

SEMINAR PENDIDIKAN : Plt. Pengurus Besar (PB) PGRI Pusat Unifah Rosyidi tengah menyampaikan materi dalam seminar nasional HUT ke-71 PGRI di Palembang, Rabu (7/12). Foto/Eja

Palembang – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) minta orangtua untuk percayakan anaknya kepada guru saat di sekolah, karena sudah ada kode etik profesi guru yang mengatur perlindungan untuk anak didik dan guru.

Plt. Pengurus Besar (PB) PGRI Pusat Unifah Rosyidi mengungkapkan, banyaknya pemberitaan diberbagai media mengenai kekerasan terhadap anak didik oleh oknum pengajar, bahkan tindak kekerasan dari pelajar dan orangtuanya terhadap guru sangat disayangkan. ‘’Pasalnya, untuk melindungi guru dan anak didiknya sudah ada kode etik profesi guru,’’ ujarnya dalam seminar nasional rangkaian HUT ke-71 PGRI , di Palembang, siang tadi.

Ia menjelaskan, orangtua yang menyekolahkan anaknya harus mempercayakan 100 persen pendidikannya ditangan gurunya. Sebab, gurulah yang mengetahui sistem dan tumbuh kembang anak didik di sekolah. “Mengajar anak itu tidak boleh terlalu keras ataupun lembek. Karakter siswa yang mandiri dan percaya diri harus dilatih. Kan sudah ada kode etik guru, jadi orangtua tidak perlu khawatir untuk menyerahkan pendidikan anaknya kepada guru,’’ tegasnya.

Dikatakannya, orangtua seharusnya melakukan penyelidikan dulu lebih mendalam jika anaknya mengadu dicubit atau diperlakukan sedikit kasar oleh gurunya. “Belum tentu semua itu murni kesalahan gurunya. Seperti kasus yang terjadi di Makasar, ada guru yang sedang sholat Dhuha kemudian tersiram air pel oleh siswanya yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Spontan saja ia marah dan mencubit siswa tersebut. Hal yang seperti ini kan bukan direncanakan, tapi karena kelakuan siswa yang berlebihan,” tutur Unifah dalam seminar yang dikuti sekitar 900 anggota PGRI dan pemerhati pendidikan tersebut.

Selain itu, tambah Unifah, Undang-Undang (UU) Tentang Perlindungan Anak dan kode etik profesi guru itu tidak ada benturan. Justru kode etik profesi guru itu mengatur untuk melindungi anak didik dan gurunya. Namun yang menjadi permasalahan adalah cara penafsiran dan pelaksanaannya di lapangan yang sering melenceng. “Tingkat emosional guru pada umumnya itu baik-baik saja. Guru itu bukan malaikat loh. Orangtua saja kalau anaknya sudah nakal diluar batas wajar sering mencubit atau membentak anaknya, kenapa yang seperti itu tidak ditindak juga,’’ katanya. (korankito.com/Eja)