Bisa Dipercaya

Indonesia Kekurangan Doktor

KEKURANGAN DOKTOR: Irjen Dikti Kemenristek Dikti Jamad Wiwoho memberikan peningkatan kualitas dosen di aula kopertis wilayah II, Kamis (1/12). Foto/ Eja
KEKURANGAN DOKTOR: Irjen Dikti Kemenristek Dikti Jamad Wiwoho memberikan peningkatan kualitas dosen di aula kopertis wilayah II, Kamis (1/12). Foto/ Eja

 

Palembang – Indonesia kekurangan dosen S3 atau dokter serta minimnya karya untuk jurnal internasional.

Menurut Inspektur Jenderal Perguruan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Irjen Dikti Kemenristek Dikti) Jamad Wiwoho, dari 500 ribu dosen yang terdaftar di perguruan tinggi (PT) negeri maupun swasta di Tanah Air cuma ada sekitar 5.000 dosen yang bergelar S3 dan dari jumlah itu hanya 4.000 dosen saja yang kerap membuat karya di jurnal internasional. “Mengenai data pastinya masih belum terpetakan, tapi melalui data sementara jika dibeberkan hanya 10 persen dosen S3 dari seluruh dosen yang terdaftar di Kemenristek Dikti,” tutur Jamad.

Berita Sejenis

SMAN 10 Palembang Jawab Tantangan Kadisdik Sumsel 

Polsri Gelar EDS Kedelapan

17 Lembaga Pendidikan Empatlawang Diajukan Akreditasi

1 daripada 17

Berangkat dari fakta tersebut, pihaknya tengah mendorong setiap dosen yang masih bergelar master untuk segera lanjut ke S3. “Bagi mereka yang masih bergelar master harus segera kuliah lagi untuk mengambil gelar doktor dan bagi mereka yang sudah lektor maka harus menjadi guru besar. Sedangkan bagi yang menjadi guru besar tentunya mereka harus tetap berkarya melalui penelitian untuk penulisan jurnal internasional,” tegas Jamad, Kamis (1/12).

Dikatakannya, sudah dijelaskan dalam undang-undang perguruantinggi, jika salah satu syarat untuk menjadi dosen minimal bertitle master (S2). “Jumlah dosen bergelar doktor  di Indonesia memang tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan Thailand, Singapura dan Malaysia yang mayoritas dosennya sudah bergelar Doktor. Jadi para dosen harus bersemangat untuk meningkatkan kualitasnya agar outputnya dapat melebihi kualitas jebolan negeri tetangga,” harapnya.

Selain itu, dikatakan Jamad, dari sebuah lembaga survei dunia menunjukkan grafik jika Indonesia sendiri kalah dengan negara-negara lainnya di Asia terutama oleh Thailand, Singapura dan Malaysia. “Kami juga mengupayakan untuk mendorong dosen-dosen untuk membuat jurnal internasional yang masuk kriteria Indeks Scopus. Setidaknya minimal sama dengan Malaysia yang jurnal internasionalnya saat ini sudah mencapai 22.000 paper,” pungkasnya.(korankito.com/eja)