Bisa Dipercaya

Sumsel Siap Gelar Asia Pacific Bonn Challenge Conference

TUAN RUMAH APBCC: Gubernur Sumsel Alex Noerdin ikuti rapat persiapan APBCC di Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Selasa (29/11). Foto/humas
TUAN RUMAH APBCC: Gubernur Sumsel Alex Noerdin ikuti rapat persiapan APBCC di Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Selasa (29/11). Foto/humas

 

Jakarta – Sumatera Selatan (Sumsel) siap mengelar Asia Pacific Bonn Challenge Conference (APBCC) pada Februari 2017.

Hal itu dinyatakan Gubernur Sumsel Alex Noerdin dalam rapat APBCC yang dipimpin Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) Siti Nurbaya Bakar di Gedung Manggala Wanabakti Blok 1 Lantai 4 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI  Jakarta, kemarim.

Berita Sejenis

Empat Begal ‘Cilik’ Dicokok Polisi

SMKN 2 Palembang Bidik World Class

Dzhalilov Targetkan Top Skor Bersama SFC

1 daripada 3.067

Menurut Alex Noerdin,  Bonn Challenge  untuk melihat sejauhmana perkembangan pemulihan hutan dan lahan gambut yang ada di Sumsel. Konsep kemitraan pengelolaan bentang alam/ekoregion ( KPE).  “Upaya untuk menjalin kemitraan multi aktor P4 (public private people partnership) untuk mengelola berbagai aktivitas dalam suatu bentang alam, secara terpadu, lintas sektor (kehutanan,perkebunan,pertanian), dan lintas wilayah admistratif dalam kerangka green growth ( protection dan production ) tujunya untuk melestarikan lingkungan, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Gubernur Sumsel

Gubernur menyampaikan, banyak hal yang sudah dipersiapkan Sumsel. Antara lain, rapat koordinasi persiapan teknis dengan koordinator panitia lokal asisten IV, rapat koordinasi dengan mitra kerja green growth Sumsel untuk dukungan kegiatan (APP, Belantara, IDH, ZSL, WRI, GIZ bioclime), komunikasi dengan IUCN. “Blok 100 kamar hotel untuk tanggal 6-8 Februari 2017, survei lokasi site visit rengas merah dan lalan, koordinasi untuk penyambutan peserta dan pelayanan selama berlangsung acara,” kata Alex.

Seperti diketahui, perkembangan inisiatif Bonn Challenge, diluncurkan pertama kali pada tanggal 02 September 2011 oleh Germany dan The Internasional Union For Conservation( IUCN), merupakan gerakan global untuk merestorasi 150  juta ha lahan yang terdeforestasi dan terdegradasi sampai 2020, serta 350 juta  ha sampai 2030. Bonn Challenge menyerukan negara-negara dan semua aktor swasta, masyarakat, NGOs, dan lainya untuk mencapai target tersebut sebagai alat untuk memenuhi beberapa tujuan internasional seperti CBD Aichi target 15, REDD+ UNFCCC, UNCCD dan SDGs.

Untuk mendorong komitmen dari berbagai kalangan di regional, Event Bonn Challenge diadakan di region, antara lain : Bonn Challenge for Latin America (20 Agustus 2015 dan 26 sampai 27 Agustus 2016) dan The Africa High Level Bonn Challenge Roundtable, Rwanda ( Juli 2016, dengan komitmen 11,5 juta ha). (korankito.com/Azza)