2017, Dana Bedah Rumah Tetap Rp 10 M

walikota-palembang-harnojoyo-secara-simbolis-memukulkan-palu-sebagai-tanda-dimulainya-bedah-rumah-foto-ferdinand-deffryansyah-300x1992x

Walikota Palembang Harnojoyo secara simbolis memukulkan palu sebagai tanda dimulainya bedah rumah. foto/sn

Palembang – Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya (PUCK) Kota Palembang mencatat hampir 1300 hektar atau sebanyak 40 ribu rumah yang ada di Kota Palembang masih dalam kategori kumuh. Namun, sangat disayangkan untuk program bedah rumah tidak ada kenaikan anggaran dari Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang.

Pemkot Palembang hanya menganggarkan Rp 10 miliar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) Palembang tahun 2017 mendatang. “Dana tersebut tidak ada penambahan dibandingkan dana tahun sebelumnya,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya (PUCK) Kota Palembang, Syaiful saat dibincangi wartawan, Kamis (24/11).

Dijelaskannya, dana tersebut untuk membantu rumah yang dianggap tidak layak. Sedangkan untuk rumah yang memang sudah sangat parah, seperti mau roboh maka pihaknya akan meminta bantuan baik dari pihak REI, maupun pihak lainnya seperti CSR Budha Suci dan juga amil zakat. “Bantuan pihak ketiga ini untuk rumah yang memang benar-benar parah dan mau roboh,” terangnya.

Dirinya juga menambahkan, selain menyiapkan dana Rp 10 miliar, pihaknya juga akan berupaya menyiapkan lahan. Lahan tersebut sebagai pengganti beberapa kawasan yang dianggap kumuh.

Namun, tentunya memerlukan dukungan dari masyarakat. “Ya, ini harus ada dukungan dari masyarakat itu sendiri seperti mau dipindahkan dari tempat semula ke tempat yang baru,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, saat ini memang para pengembang lebih mengincar kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Berbeda dengan sebelumnya, pengembang lebih mementingkan masyarakat yang memiliki lahan, serta yang sifatnya incidental seperti kebakaran di 3-4 Ulu. “Kebakaran 3-4 Ulu yang menghabiskan beberapa rumah ini, dibantu oleh pengembang dalam pembangunan rumah mereka, karena ada lahan,” jelasnya.

Namun, lanjut Syaiful, saat ini para pengembang kesulitan dalam mencari lahan karena itu lebih fokus dalam perbaikan rumah. “Ya, kalau memang ada lahan yang bisa digunakan untuk membangun, kami akan coba untuk mengusulkannya kepada pihak pengembang,” tambahnya.

Disinggung jumlah daerah kumuh di Kota Palembang, dirinya mengaku belum mengetahuinya, karena pihaknya masih harus mendata per kecamatan di Kota Palembang. “Saya belum tahu sekarang berapa banyak daerah kumuh di Kota Palembang karena masih harus didata,” katanya. (korankito.com/ria)