Blanko E-KTP Minim, Disdukcapil Beri Pelayanan Terbatas

BLANKO E-KTP MINIM: Disdukcapil Palembang berikan pelayanan terbataa karena blanko e-KTP yang dikirim Jakarta sedikit. Foto/Trb

BLANKO E-KTP MINIM: Disdukcapil Palembang berikan pelayanan terbatas karena blanko e-KTP yang dikirim Jakarta sedikit. Foto/Trb

Palembang – Minimnya blanko e-KTP yang dikirim dari Jakarta, maka Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Palembang memprioritaskan pembuatan e-KTP bagi warga yang baru merekam dan yang keperluan mendesak.
Kepala Dukcapil Palembang Ali Subri mengatakan, Disdukcapil melayani warga yang akan membuat e-KTP dikarenakan keperluan yang mendesak misalnya warga yang mau naik haji harus pakai e-KTP asli. Di luar itu, seperti mengganti KTP hilang, KTP rusak dan lainnya akan dilayani belakangan. “Karena kondisi blanko terbatas jadi kita berlakukan skala prioritas. Bagi masyarakat yang belum lakukan perekaman sama sekali akan didahukan. Sementara untuk yang rekam ulang akan ditunda dulu,”ujar Ali.
Disebutkannya, perekaman data e-KTP berdasarkan DKP 1 per Januari – Oktober 2016, tecatat Palembang sudah merekam 99,5% dari 1.4 juta wajib e-KTP. Artinya tinggal tersisa 0,5% lagi yang mesti dipenuhi.  “Ini data tertinggi di Sumsel,”kata Ali.
Dengan perekaman yang hampir 100 persen dan sebagian didapat melalui pelayanan perekaman setiap hari, termasuk layanan di lingkungan gotong royong pada Minggu pagi dengan bekerjasama dengan kelurahan dan kecamatan membuktikan koordinasi yang dilakukan sangat baik. “Jemput bola kita lakukan, mulai dari mal, sekolah, hingga rumah dinas wako. Pelayanan di lokasi gotong royong juga sangat efektif,karena langsung ke pemukiman warga. Pegawai kita siap lembur, meski tidak ada uang ganti kerja,”bebernya.
Salah seorang warga Kecamatan Seberang Ulu I, Maimunah harus menahan sabar begitu mengetahui dia belum bisa dilayani untuk pembuatan e-KTP.
Padahal dia sudah mendatangi kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Palembang sejak pagi hari. Dia mengaku mau membuat e-KTP lagi untuk mengganti kartu lama yang hilang. Dia pun sudah lapor ke kepolisian sebagai syarat mengganti e-KTP yang hilang tersebut. Sayangnya, kabarnya e-KTP itu belum dibuatkan. “Tidak bisa, saya cuma terima surat keterangan kalau e-KTP sedang dalam proses untuk berurusan juga tidak keluar,”ujarnya.
Berbeda dengan Aguatia. Saat usianya 17 tahun pada 12 November 2016, dia langsung merekam data e-KTP. Tak perlu waktu lama, dia pun memiliki e-KTP. “Saya buat e-KTP karena ingin membuat SIM C,”jelas pelajar ini. (korankito.com/ria)