Palembang Darurat Miras

DARURAT MIRAS: Kapolresta Palembang Kombes Pol Tommy Aria Dwianto (kanan) sedang mengecek ribuan botol miras yang disita polisi, Jumat(18/11). Kapolresta menyatakan Palembang saat ini darurat miras dan diharapkan peran masyarakat untuk membantu menanggulanginya. Foto/Denny

DARURAT MIRAS: Kapolresta Palembang Kombes Pol Tommy Aria Dwianto (kanan) sedang mengecek ribuan botol miras yang disita polisi, Jumat(18/11). Kapolresta menyatakan Palembang saat ini darurat miras dan diharapkan peran masyarakat untuk membantu menanggulanginya. Foto/Denny

Palembang – Kota Palembang dinyatakan darurat peredaran minuman keras (miras) setelah sejumlah Polsek menyita 2.449 botol miras dan 36 jeriken tuak serta mulai maraknya korban tewas karena miras.

Menurut Kapolresta Palembang Kombes Pol Tommy Aria Dwianto peristiwa tersebut mengindikasikan bahwa Palembang darurat miras. “Dalam waktu satu pekan kita menggelar razia di 28 tempat dari 18 Kecamatan di Kota Palembang, mengamankan sebanyak 2.449 botol miras, dan 36 jeriken tuak. Palembang bisa dikatakan darurat miras,” tegasnya saat gelar perkara di halaman Mapolresta Palembang, Jumat (18/11) sore.

Kapolrestas mengungkapkan, perdagangan miras akan tetap berkembang dan tidak ada aturannya, jika masyarakat tak acuh dan tidak memberikan informasi penjual-penjual miras di sekitarnya. Oleh karena itu, ia meminta agar masyarakat bekerja sama dengan pihaknya. “Perdagangan ini tidak akan berhenti dan akan tetap ada. Oleh karena itu, saya meminta warga untuk berperan aktif memberikan informasi dengan pihak kepolisian. Kami, Polresta Palembang dan Polsek berkomitmen akan terus memberantas miras di Palembang,” terangnya.

Lanjut Tommy, miras yang berhasil disita tersebut, selanjutnya akan segera dimusnahkan. Sementara, 39 pedagang sudah dimintai keterangan dan membuat surat pernyataan untuk tidak lagi menjual miras. Jika nantinya, masih menjual miras, akan diproses sesuai dengan hukum berlaku. “Penjual miras dapat dikenakan Perda No 11 Tahun 2006 dengan kurungan enam bulan penjara atau denda Rp 50 juta. Kalau ada warga yang meninggal dunia akibat miras, pedagang bisa kita kenakan pasal 204 KUHP dengan ancaman kurungan 15 tahun penjara,” terangnya.

Masih menurut Tommy, Polresta Palembang akan berkoordinasi dengan pihak Bea Cukai untuk melihat label cukai di miras merek anggur merah benar-benar asli atau palsu. “Kita juga berkoordinasi dengan Polsek yang wilayahnya terdapat perkebunan pohon aren, karena pohon aren dapat dijadikan bahan miras,” tuturnya.

Untuk diketahui, peredaran miras tertinggi di wilayah Kota Palembang berada di Kecamatan Sukarami dan Gandus. Terbukti, Polsek Sukarami mengamankan 159 botol Mansion House, 91 botol Vodka dan tujuh  jeriken tuak. Sementara Polsek Gandus, tiga jeriken, 67 botol, serta lima kantong plastik tuak.

Kapolsek Sukarami Kompol Ahmad Akbar mengatakan, untuk memberantas peredaran miras di wilayah hukumnya, pihaknya melakukan upaya pendekatan kepada masyarakat, melalui tokoh agama dan masyarakat dengan cara memberikan arahan akan bahayanya miras jika di konsumsi.

“Luas wilayah Sukarami dan penduduk yang padat, memberikan banyak celah kejahatan termasuk pedagangan miras. Itulah yang sedang kami fokuskan untuk diantispasi kedepannya. Harapannya, tidak ada lagi penjual miras di wilayah Polsek Sukarami,” tutupnya. (korankito.com/Denny)