Warga Khawatirkan Aksi ”Pak Ogah” Cilik

 

'PAK OGAH CILIK' : tiga anak nekat jadi pengatur liar lalu lintas di Jalan Sudriman, Rabu (16/11). Warga minta ada petugas polisi yang perhatikan itu. Foto/Eja

‘PAK OGAH CILIK’ : tiga anak nekat jadi pengatur liar lalu lintas di Jalan Sudriman, Rabu (16/11). Warga minta ada petugas polisi yang perhatikan itu. Foto/Eja

Palembang – Tiga bocah nekat menjadi pengatur liar lalulintas (Pak Ogah)  di Jalan Sudirman dekat Markas Kepolisian Daerah Sumsel atau persis depan taman makam pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang, Rabu (16/11).

Tidak sedikit warga yang prihatin dan khawatir akan terjadi sesuatu dengan aksi para bocah tersebut. ‘’Waduh, itu anak siapa yang nekat. Kok tidak ada yang menegur,’’ komentar Syarif (26) pengendara sepeda motor yang melintas di jalan tersebut.

Ia khawatir anak-anak itu terserepet kendaraan yang melintas. ”Mobil yang lewat kan banyak bisa bahaya itu anak. Harusnya ada polisi yang menegur,” tambahnya.

Menurut informasi yang didapat menyebutkan, aksi tiga bocah tersebut sudah berlangsung sejak tiga hari belakangan ini. Warga sekitar mengungkapkan, bocah pengatur liar lalulintas itu berdomisili di belakang taman makam pahlawan.

Menanggapi kejadian semacam itu, pengamat pendidikan Syarwani Ahmad yakin orang tua para bocah tersebut tidak tahu kelakukan anaknya. ‘’Bisa jadi kedua orang tuanya masih sibuk mencari nafkah sehingga luput untuk mengawasi anak,’’ ujarnya.

Seharusnya, papar Syarwani, sebagai orangtua mereka wajib memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap anaknya, apalagi diusia sekolah pendidikan dasar. ‘’Anaknya harus dibimbing dan diawasi, berikan kegiatan yang positif bagi anaknya. Jangan biarkan anak berkeliaran di jalanan tanpa adanya pengawasa, bila perlu ajak anaknya untuk ikut kegiatan mereka sehingga anak mempunyai kegiatan,” ujarnya.

Melihat dari fenomena itu, ia berpendapat apabila dikaitkan dengan rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meliburkan siswa setiap Sabtu tentu saja hal itu tidak akan efektif. ‘’Jangan-jangan malah memberikan banyak peluang bagi anak-anak untuk berkeliaran tanpa kontrol orang tua. Apalagi ruang publik untuk anak-anak di Kota Palembang sangat minim,’’ kata Rektor Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Palembang itu.

Ia mengungkapkan pula, libur pada hari Sabtu juga berdampak pada kegiatan anak dari lingkungan keluarga ekonomi rendah yang kedua orang tuanya sibuk mencari nafkah. Syarwani berharap, pemerintah harus mengkaji kebijakan secara mendetail karena situasi setiap daerah berbeda, terutama untuk kawasan perkotaan dan pedesaan apalagi daerah pinggiran. (korankito.com/Eja)