Bisa Dipercaya

Pedagang Pasar Tolak Kenaikan Sewa Kios

img_0341

Palembang – Perusahaan Daerah (PD) Pasar Palembang Jaya sudah mengeluarkan tarif sewa kios/lapak untuk pasar tradisional yang ada di bawah pengelolaannya. Selebaran kenaikan tarif sewa ini sudah disebarkan oleh PD Pasar kepada para pedagang yang ada di sejumlah pasar tradisional di Palembang.

Koordinator Pasar Sekip, Jamal mengungkapkan, dalam selebaran yang diterima pedagang, tarif sewa kios/lapak dibedakan berdasarkan kelas/tipe pasar. Bahkan ada beberapa pasar tradisional yang saat ini beralih dari tipe C menjadi tipe D seperti pasar Lemabang, pasar KM5, pasar 10 Ulu, pasar Sekip, pasar Bukit Kecil, pasar Padang Selasa, pasar Kamboja, pasar Kebon Semai, pasar Kertapati, pasar 3/4 Ulu, pasar Tangga Buntung dan pasar Yada.

Berita Sejenis
1 daripada 3.088

“Selebarannya sudah kami terima hari ini,” ujar Jamal, Rabu (16/11).

Ia menjelaskan, jika sebelumnya pedagang hanya membayar Rp 300 ribu pertahun, dengan dikeluarkannya selebaran mengenai kenaikan tarif sewa kios maka pedagang harus membayar sewa kios tersebut lebih mahal dari biasanya.

Perinciannya yakni untuk ukuran lapak 1,5 meter, harga yang ditetapkan sebesar Rp 35 ribu. Sedangkan untuk ukuran 3×4 meter harganya Rp 40 ribu. “Jadi jika dikalkulasikan pedagang harus membayar sewa pertahunnya dari kisaran Rp 1 juta sampai 5 juta,” ujarnya.

Dengan adanya selebaran kenaikan tarif sewa yang dikeluarkan PD Pasar itu, lanjutnya, pedagang masih merasa keberatan dengan jaminan sewa tersebut. Pedagang masih berharap PD Pasar mau mengkaji lagi kenaikan tersebut.

Ditengah kondisi perekonomian saat ini. Ditambah jam operasional pasar yang hanya buka sampai dengan pukul 11 siang, dirasa sangat berat untuk membayar sewa sesuai yang telah ditetapkan.

“Pedagang disini rata-rata berdagang sayur-mayur. Berapalah penghasilan kami ini,” katanya sembari mengatakan Ia pada dasarnya menyetujui dengan sewa yang harus dibayar tersebut hanya ia mengikuti pedagang lain yang merasa masih keberatan dengan tarif sewa tersebut.

Terpisah, Direktur Operasional (Dir Ops) PD Pasar Palembang Jaya, Febriyanto mengakui, kurangnya sosialisasi yang dilakukan pihaknya menyebabkan timbulnya polemik mengenai kenaikan harga sewa kios.

Ia menjelaskan, masa sosialisasi sejak keluarnya Perwali selama tiga bulan, hanya saja belum sempat terlaksana pedagang sudah menjadi resah dan melakukan aksi penolakan. “Pasar kan banyak kita butuh waktu untuk lakukan sosialisasi itu, bertahaplah,”  ujarnya.

Dalam hal ini jelasnya pedagang yang melakukan aksi penolakan seharusnya jangan melihat kenaikan sewa tarif tersebut berdasarkan tipe pasar. Pasalnya untuk tempat mereka merupakan pasar dengan tipe D.

Apalagi dengan ketetapan yang dikeluarkan oleh pihaknya, tambahnya pedagang tidak lagi dibebankan dengan biaya retribusi bulanan. Namun langsung membayar sewa selama satu tahun. Ia beralasan sudah saatnya ada penyesuaian tarif atau sewa kios/lapak dipasar-pasar tradisional. Karena sejak tahun 1970 tarif sewa pasar ini belum pernah disesuaikan.

Ia mencontohkan pasar dengan kelas/tipe A bisa saja tarif sewanya mencapai Rp 10 juta. Tapi untuk pasar dengan Tipe/kelas D hanya Rp 2 juta. “Sedangkan pasar yang dikelola oleh swasta. Tarif yang ditetapkan paling rendah bisa mencapai Rp 2,5 juta,” katanya.

Ia pun mengajak pedagang yang belum mengerti untuk bisa mendatangi PD Pasar untuk meminta penjelasan terkait kenaikan sewa ini. Selain itu juga pihaknya akan gencar mensosialisasikan kenaikan sewa tarif ini melalui kepala pasar.

“Karena itu kita ultimatum juga kepala pasar untuk gencar sosialisasikan ini. Tidak nyampe lah kenaikan itu 100 persen. Ayo pedagang yang belum mengerti silahkan datang ke PD Pasar kamia akan jelaskan semuanya,” tukasnya. (korankito.com/ria)