Disdipora Buat Kolam Retensi Atasi Sekolah Banjir

zulinto-11

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kota Palembang, Ahmad Zulinto

Palembang – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Palembang berencana membuat kolam retensi untuk penampungan air, sebagai  solusi pencegah banjir.

Kepala Disdikpora Kota Palembang Ahmad Zulinto mengatakan, banjir di sejumlah sekolah di Palembang terjadi karena hujan lebat yang mengguyur Palembang, belum lagi ditambah dengan selokan yang tertutup oleh sampah rumah tangga serta sekolah-sekolah yang berada di pinggiran rawa. Tentu saja hal ini akan dapat meningkatkan resiko terjadinya banjir di sekolah. “Jadi salah satu upaya yang kami lakukan dengan mendorong pihak sekolah untuk membuat kolam retensi sebagai solusinya,’’ kata Zulinto, Rabu (16/11).

Ia mencontohkan, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 22 dan SMPN 37 Palembang sudah ada kolam retensi dan sudah terbukti cukup efektif menahan air. ‘’Sekarang kedua sekolah itu tidak lagi mengalami banjir,” terang Zulinto.

Ia menjelaskan, untuk pembuatan kolam retensi tersebut akan dilakukan secara internal oleh pihak sekolah, terutama bagi sekolah yang rawan dan langganan banjir ketika hujan deras. Selain itu, pihaknya kini tengah melakukan penelusuran dan pendataan titik-titik lokasi banjir untuk mengatahui penyebab kebanjiran, terutama menyelesaikan hulu sungai mana yang menjadi faktor penyebab utamanya sebagai proritas penyelesaian. Saat ini Disdikpora tengah menunggu hasil laporan secara detil dari semua UPTD di seluruh kecamatan di Kota Palembang terkait jumlah sekolah yang sering banjir. “Yang menjadi kendala utamanya saat ini ialah apakah di sekolah yang banjir tersebut mempunyai lahan kosong yang cukup untuk membuat kolam retensi. Untuk itu, kami meminta agar pihak sekolah untuk segera melaporkan kepada pihak Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) setempat jika sering terjadi banjir agar bisa ditindak lanjuti,” harapnya.

Sementara itu, Kepala SDN 50 Palembang Halma mengaku, jika di sekolahnya sudah menjadi langganan banjir saat hujan datang. Bahkan ketinggian airnya mencapai 50 centimeter dan masuk ke dalam ruang kelas. “Jadi dengan situasi seperti ini kami terpaksa meliburkan siswa selama dua hingga tiga hari atau hingga ketinggian air menurun dan siswa dapat beraktivitas kembali. Hal ini kami lakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan saat terjadinya banjir,” pungkasnya. (korankito.com/eja)