Sekeluarga Pengedar Shabu

KELUARGA PENGEDAR SHABU: Suami istri dan mertua ditangkap polisi karena menjadi pengedar shabu, Jumat (11/11) Foto/Kardo

KELUARGA PENGEDAR SHABU: Suami istri dan mertua ditangkap polisi karena menjadi pengedar shabu, Jumat (11/11) Foto/Kardo

 

Palembang – Satu keluarga yang terdiri dari suami istri dan mertua dicokok petugas Satuan Polair Polresta Palembang karena terlibat peredaran narkoba jenis shabu.

Suami istri M Solihin (22) dan Meydina (20), serta mertua Sulaiman (45) ditangkap petugas di rumah di Jl Slamet Riyadi, Kelurahan 5 Ilir Kecamatan IT ll Palembang, Kamis (10/11).

Dari penangkapan tersebut, petugas menyita satu buah alat hisap berbentuk bong, buku rekapan, dan uang ratusan ribu rupiah hasil dari penjualan.

Dihadapan petugas, Meydina mengaku jika barang tersebut didapat dari seorang rekan suaminya beinisial B. Dan dirinya juga mengaku jika mereka sudah empat bulan mengedarkan shabu tersebut. “Dapat shabu dari B pak, sekali ambil satu paket sedang seharga Rp 1,6 juta,” ungkap Meydina, Jumat (11/11).

Sementara itu, M Solihin mengaku jika dirinya nekat mengedarkan shabu lantaran ingin mencukupi biaya hidup keluarga sebab penghasilan sebagai montir tidak mencukupi. “Mau beli susu anak pak, uangnya tidak cukup. Penghasilannya lumayan dua hari bisa Rp 400 ribu,” ujarnya.

Lain halnya dengan Sulaiman, Ayah kandung Meydina mengungkapkan, jika saat pertama kali menantunya ingin menjadi pengedar, dirinya sempat melarang. Namun, karena sudah terlanjur terlalu lama menjual barang tersebut, dirinya nekat menjadi pemakai dan kurir menantunya tersebut. “Sempat dibilang pak, tapi karena keterusan, jadi saya diamkan saja,” katanya.

Sementara itu, Kasat Polair Polresta Palembang Kompol Heri Lawalata mengungkapkan, jika ketiga tersangka sudah menjadi incaran petugas sejak empat bulan lalu. Saat digeledah ditemukan barang bukti yang disembunyikan di bawah lemari. “Mereka ini pengedar yang sudah lama dikenal pelanggannya. Dalam dua hari saja mereka jual 1,5 gram shabu. Kita jerat Pasal 114 dan 112 UU No 35 Tahun 2009 ancaman lima tahun,” tukasnya.(korankito.com/kardo).