Konsep Hijau Sumsel Diapresiasi Peserta Konferensi Perubahan Iklim Dunia

img_4990

Maroko – Upaya Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin mewujudkan tata kelola hutan lestari berbasis lanskap melalui upaya Kemitraan Pengelolaan Ekoregion dalam koridor South Sumatra Green Growth (SSGG) banyak mendapat dukungan dari berbagai mitra nasional dan internasional.

Pada forum konferensi peserta pertemuan perubahan iklim dunia atau The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Conference of the Parties (COP 22) di Marrakesh Maroko 8 November 2016 lalu, staf khusus Gubernur Sumsel bidang perubahan iklim Dr. Najib Asmani menyampaikan presentasi dengan topik “Multi-Goals Require Multi-Stakeholders Approach: Evidence from forest based landscape”.

Konsep hijau ini merupakan satu-satunya digunakan di kawasan Asia Pasifik, yang mampu mengimplentasikan suatu model pengelolaan lanskap berbasis hutan dengan melibatkan banyak aktor secara terintegrasi dan terpadu. Konsep tersebut bertujuan melakukan konservasi, restorasi dan rehabilitasi kawasan hutan agar tetap lestari serta selaras untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pada forum khusus “South Sumatra Session” yang berlangsung di Pavilion Indonesia CoP 22 Marrakesh Maroko tersebut, berbagai mitra konsorsium SSGG seperti IDH The Sustainable Trade Initiative dari Belanda, GIZ Bioclime dari Jerman, ZSL sebagai pelaksana proyek dari UKCCU Inggeris dan NICFI Norwegia, Yayasan Belantara sebagai organisasi trust fund dari Asia Pulp Paper, dan ICRAF sebagai Konsultan yang menyiapkan grand desain juga mengemukakan pengalamannya dalam mendukung SSGG di Sumatera Selatan tersebut.

Dalam presentasinya, Najib Asmani mengemukakan bahwa SSGG ini diawali dari keinginan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin untuk mengimplementasikan kegiatan REDD+ sebagai hasil dari CoP 13 tahun 2007 di Bali.

Alex Noerdin, yang ketika itu pada awal masa jabatan sebagai Gubernur Sumsel mengingingkan Sumatera Selatan sebagai model tata kelola lanskap berbasis hutan melalui model Green South Sumatra dengan melibatkan semua stakeholder dalam upaya mendukung penurunan emisi gas rumah kaca untuk mengantisipasi pemanasan global.

Diskusi yang dipimpin Tony Juniper dari University of Cambridge Institute for Sustainability Leadership juga menampilkan narasumber lainnya seperti Dr. Sechan Kumar dari the Nature-based Solutions Group IUCN, dan Helmut Dotzauer dari GIZ Bioclime Jerman.

Sementara dari Indonesia yakni Dr. Fitrian Ardiansyah dari Indonesian Country Director IDH, Prof. Dr. Damayanti Buchori, MSc selaku Direktur Proyek The KELOLA Sendang ZSL, dan Dr. Sonya Dewi dari Indonesian Country Coordinator, ICRAF-CGIAR.

Para audiens yang memberikan respon pada diskusi tersebut sangat apresiasi atas keberhasilan dari Alex Noerdin yang mampu mengkoordinasikan banyak aktor untuk berperan nyata dalam kemitraan pengelolaan lanskap.

Hal itu adalah bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk menyatukan berbagai kepentingan karena di dalam suatu lanskap terdapat berbagai aktifitas yang melibatkan pihak swasta dengan investasinya, masyarakat dengan aktifitas yang untuk memenuhi nafkahnya, dan program-perogram yang dialakun oleh pemerintah. Di beberapa tempat kegiatan kemitraan pengelolaan lanskap masih banyak yang terbatas pada konsep dan tataran teori saja.

Dr. Sechan Kumar dari IUCN menginformasikan bahwa dengan berbagai kegiatan terkait restorasi lanskap dan jejak rekam yang bagus yang telah dibuktikan Alex Noerdin maka IUCN menunjuk Sumatera Selatan sebagai tuan rumah pertemuan internasional tentang Restorasi Lanskap Bonn Challenge Regional Asia Pasifik yang diselenggarakan pada Februari 2017.

The Bonn Challenge adalah suatu inisiatif restorasi lanskap hutan kritis yang terbesar di dunia. Targetnya pada Tahun 2020 untuk dapat merestorasi 150 juta hektar hutan dan lahan degradasi atau kritis, dan ditingkatkan menjadi sebesar 200 juta hektar pada tahun 2030 sesuai Deklarasi New York 2014 tentang hutan.

The Bonn Challenge diluncurkan pada September 2011 dalam suatu acara di Kementerian Lingkungan Hidup yang diselenggarakan  Pemerintah Jerman dan the International Union for Conservation of Nature (IUCN) serta didukung organisasi Kemitraan Global untuk pemulihan hutan.

Alex Noerdin secara khusus telah diundang secara khusus berbicara pada Forum High Level Meeting Bonn Challenge di Bonn Maret 2015 dan Pertemuan Bonn Challenge para Menteri Lingkungan Regional America Latin di Panama Agustus 2016. Selain itu pada bulan Juli 2016, Alex Noerdin diminta juga sebagai pembicara pada Pertemuan Bonn Challenge para Menteri Lingkungan Regional Afrika di Kigali. Dr. Kartini Syahrir Staf Ahli Bidang Perubahan Iklim Kementerian Koordinator Maritim dan Sumberdaya RI.

Indonesia pernah sebagai penyelenggara CoP13 di Bali yang menghasilkan kesepakatan tentang Reducing Emission from Deforestasi dan Degrasi Hutan atau dikenal dengan REDD. Pada pertemuan tersebut, banyak pihak yang berminat melalukan kerjasama terutama bidang energy terbarukan, ekowisata dan jasa ekosistem.

Pada hari dan di tempat yang sama, pada sesi inovasi telah tampil Danrem 044 Gapo Kunto Arief Wibowa yang memaparkan tentang teknologi Bios 44 yang dapat dimanfaatkan pada gambut dalam pencegahan kebakaran gambut, serta teknologi foam untuk pengcegahan kebakaran dan energi berbasis sampah yang rendah emisi. (korankito.com/rel)