Bisa Dipercaya

90 Persen Guru Sumsel Belum Dapat Pelatihan

Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Widodo. Foto/Eja
Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Widodo. Foto/Eja

Palembang – Sekitar 90 persen dari 110 ribu guru di Sumatera Selatan (Sumsel) belum mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi, maka itu Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel saat ini menerapkan sistem training of trainer (TOT).

Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel Widodo, selama ini kekurangan dana untuk melakukan pelatihan para guru secara serentak. “Makanya kami sedang mengupayakan sistem TOT, dimana setiap guru yang mendapat pelatihan dapat mengimbaskan atau membagikan serta mengajarkan ilmu yang didapatkannya dari pelatihan kepada guru lainnya. Dengan catatan guru yang diimbaskan mempunyai bidang studi yang sama,” ujar Widodo, Minggu (6/11).

Berita Sejenis

Heboh! Diduga Mabuk, Begini Kelakuan Ayu Ting Ting Kepada…

Muba Raih Penghargaan Peduli HAM

Juruparkir Todong Penumpang Bentor

1 daripada 3.070

Selain terkendala dana, paparnya, waktu dan tempat pelaksanaan juga menjadi salah satu penyebab tidak meratanya pelatihan terhadap guru. Dikatakannya, seandainya dalam satu tahun saja ada 3000 orang guru yang mendapat pelatihan, maka perlu waktu 40 tahun agar 110 rubu guru tersebut mendapat pelatihan. Belum lagi jika dalam setahun ada penambahan guru, maka pasti akan lebih sulit untuk mereka mendapat pelatihan secara merata. “Kami juga berharap kepada seluruh kepala sekolah agar dapat mengirimkan gurunya secara bergantian untuk mendapat pelatihan. Jadi tidak hanya orang itu-itu saja yang mendapat pelatihan, seperti yang sering terjadi beberapa waktu lalu. Kalau semua aspek mendukung, maka peningkatan kompetensi guru yang dapat berimbas positif terhadap peningkatan mutu pendidikan dapat dipercepat,” harap Widodo.

Jika Disdik belum sempat mengadakan pelatihan, lanjutnya, kepala sekolah harus kreatif untuk mengadakan pelatihan secara mandiri untuk para gurunya. Jika masih belum mencapai nilai standarnya diharapkan mereka lebih giat untuk mengikuti pelatihan atau mengikuti kegiatan lainnya secara mandiri, seperti musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) yang ada ditiap sekolah. Untuk pemateri pelatihannya bisa mengundang dari pengawas, Disdik tingkat kabupaten atau kota, maupun dari Disdik Provinsi. “Kami siap menyediakan narasumbernya. Asalkan ada pemberitahuan lebih dahulu, jadi kami bisa menyiapkan narasumber yang benar-benar berkompeten dibidang studi yang akan dilatihnya,” tukasnya.

Lebih dalam Widodo mengulas, setiap tahun ada yang namanya Ujian Kompetensi Guru (UKG). Jadi dari sini mereka dapat mengukur sebatas mana kompetensi yang mereka dapat selama ini.  “UKG itu sebaiknya untuk memetakan atau mengukur kualifikasi dibidang mana guru tersebut yang kurang. Jadi pemetaan kualifikasi itu dapat ditindak lanjuti dengan peningkatan kualifikasinya dibidang yang kurang tersebut. Namun rata-rata guru saat ini terutama yang senior, masih terkendala dipenggunaan informasi dan teknologi (IT),” ulasnya. (korankito.com/Eja)