Disdik Sumsel Petakan Kekurangan Guru

 

ssc0101

Palembang – Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tengah memetakan tenaga pendidik di Sumsel, untuk menutupi kekurangan guru di Sumsel yang sampai saat ini belum terpenuhi.

Kepala Disdik Sumsel Widodo mengaku pemetaan tersebut untuk menyetarakan kebutuhan guru di setiap daerah. “Kebutuhan guru tiap daerah bahkan sekolah kan berbeda. Makanya, kami saat ini tengah memetakan guru di sekolah mana yang ada guru kekurangan dan kelebihan jam mengajar,” ujar Widodo di ruang kerjanya, Rabu (2/11).

Jika masih ditemui kekurangan tenaga pendidik setelah mengadakan pemetaan dan penyerataan di seluruh sekolah di Sumsel, maka Disdik Sumsel akan mengajukan pengadaan sumber daya manusia (SDM) tenaga pendidik kepada pihak badan kepegawaian daerah (BKD) untuk membuka tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk mengisi kekosongan tersebut.

“Masalah yang saat ini masih belum teratasi adalah kekurangan guru di tiap-tiap sekolah. Sebab, setiap tahunnya guru semakin berkurang akibat adanya guru yang pensiun,” tegas Widodo.

Lebih lanjut Widodo menguraikan, guru yang mempunyai kelebihan jam mengajar seharusnya mempunyai kesadaran dan memberikan kesempatan bagi guru yang lain untuk mengisi kekurangan jam mengajarnya. Sehingga kebutuhan guru akan sedikit berkurang.

Ia mengungkapkan, sampai saat ini ada sekitar 3800 guru honor daerah (Honda) di Sumsel dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas dan kejuruan (SMA dan SMK). “Pengangkatan tenaga pendidik honorer menjadi Honda tidak ada lagi, karena aturannya sudah ada dalam Peraturan Presiden (PP) nomor 48 tahun 2005, dimana kepala daerah boleh mengangkat Honda paling akhir pada Desember 2005. Jadi saat ini saya sedang upayakan dan membicarakan dengan  pihak biro keuangan mengenai pemberian insentif kepada tenaga pendidik Honda di Sumsel,” pungkasnya.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel menyebutkan, jumlah guru yang mengajar di masing-masing sekolah pada 2014/2015 terdiri dari 60.661 guru SD, kemudian 28.385 tenaga pengajar untuk SMP dan 8.138 orang guru SMA/SMK.

Sedangkan menurut Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Palembang Ahmad Zulinto, saat ini kota Palembang kekurangan sebanyak 1.500 tenaga pengajar untuk guru SD dan SMK. ‘’Untuk SD dibutuhkan 1.200 guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) sedangkan SMK diperlukan 300 tenaga pengajar,’’ ujarnya, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, yang ada saat ini kebanyakan guru honorer atau  non PNS. Sedangkan yang benar-benar berstatus PNS sangat minim hingga kekurangan tenaga pengajar menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. “Sekarang memang kebanyakan dari tenaga pengajar berstatus honorer. Kebanyakan mereka (guru) bukan dari golongan PNS,” jelasnya.

Informasi dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Diklat Kota Palembang mengungkapkan, seiring dengan beralihnya pegawai negeri sipil (PNS) menjadi ASN pada tahun ini maka dari 551 PNS yang akan pensiun 40 persen diantaranya adalah guru. (korankito.com/eja)