Santri Harus Jaga Pancasila dan UUD

dsc_0198

Palembang – Santri Indonesia mempunyai tugas utama yakni menjaga Pancasila sebagai ideologi negara serta Undang –Undang Dasar (UUD) 1945. Hal itu disampaikan Ketua Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Palembang Hendra Zainudin pada simposium Pergerakan Santri Nusantara dalam rangkaian acara peringatan Hari Santri Nasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah, Sabtu (22/10).

“Para santri harus membangun solidaritas dan toleransi antar umat beragama dengan landasan cinta tanah air melalui Pancasila dan UUD 1945, karena itulah yang bisa mempersatukan Republik Indonesia,” ujar Hendra di depan puluhan santri yang memadati gedung Academy Center UIN.

Ia menjelaskan, sejak dulu pesantren menjadi pos-pos yang membantu kegiatan pemerintah dalam mencapai kesuksesannya. “Puncak perjuangan para santri pasca kemerdekaan yakni pada 21 dan 22 Oktober 1945 di Surabaya. Ketika itu santri melakukan pertemuan tentang resolusi jihad. Resolusi itu menjadikan elemen masyarakat berkumpul melawan penjajah yang puncaknya pada 10 November 1945,” katanya.

Selain itu, pesan Hendra, santri harus melek teknologi, berintegritas, intelektual, spiritual dan bermartabat untuk menghadapi kemajuan informasi dan teknologi (IT). ‘’Profil santri dimasa depan haruslah bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam,’’ tegasnya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang harus diingat oleh para santri dimasa depan, pertama para santri harus mempunyai integritas moral yang tinggi, jadi kedepan hanya orang berakhakul karimahlah yang bisa memimpin negeri ini. Kedua, berintegritas, intelektual, karena perkembangan IT yang kian melesat diharapkan santri mampu bersaing di kancah internasional. Selain itu, santri masa depan haruslah santri yang memiliki integritas spiritual yang tinggi, mengingat saat ini banyaknya modus penipuan yang beriming-iming religi dan kepercayaan. “Jangan sampai santri dimasa depan gampang dipengaruhi ajaran-ajaran serta kepercayaan sesat yang mengatas namakan jihad. Santri masa depan juga harus bisa membangun networking atau jaringan, umpamanya silahturahmi antar umat beragama baik di dalam maupun luar negeri. Dan yang lebih penting lagi, santri masa depan harus menguasai IT, karena Islam adalah agama yang up to date,” tutupnya. (korankito.com/eja)