Polsri Targetkan 25% Pembangkit Pakai Energi Terbaru

dsc_0288

Palembang – Politeknik Universitas Sriwijaya (Polsri) mengajak pemerintah dan dunia usaha untuk kembangkan energi baru yang terbarukan dan ditargetkan 25 persen pembangkit di Sumatera Selatan (Sumsel) energi terbaru pada 2025.

Hal itu terungkap dalam seminar tentang Pembangkit Energi Tenaga Terbarukan yang Terbarukan di Graha Polsri Bukit Besar Palembang, Selasa (18/10).

Menurut Direktur Polsri Ahmad Taqwa, hal itu berangkat dari impian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel untuk mengembangkan energi terbaru. Kemudian Polsri berupaya melakukan pengembangan dengan studi banding antar peneliti yang menggandeng dunia industri maupun pemerintah, serta pihak luar negeri. ‘’Acara ini merupakan forum tukar-menukar ide antara para peneliti, akademisi, pelaku bisnis dan pihak pemerintah dalam bidang energi terbarukan (renewable energy) selama dua hari pada 18-19 Oktober 2016,’’ paparnya, sembari menyebutkan seminar digelar sebagai rangkaian dies natalis Polsri yang ke-34.

Ia juga mengungkapkan, seminar yang digelar bersama Forum In Research, Science and Technology (FIRST) itu didorong pula banyaknya jurnal penelitian terbaru mengenai energi terbarukan. Menurutnya, energi konvesional sudah sangat minim, maka dari itu seminar ini bisa menjadi wadah dalam bertemu dan menyampaikan hasil penelitian mereka. “Kami juga mengundang pihak pemerintah agar bisa direkomendasikan dan dapat digunakan dalam perkembangan pembangkit tenaga energi terbarukan,” papar Taqwa.

Saat ini, lanjutnya, pemerintah juga tengah gencar mengembangkan konsep smart grip, dimana sumber energi tidak hanya berasal dari satu arah tapi juga dari masyarakat. “Jadi masyarakat juga bisa memproduksi energi dari pengelolaan sampah rumah tangga mereka. Jika ada hal yang baru akan segera kita respon,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar sekaligus menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Akademik Polsri Firdaus mengungkapkan, Polsri sendiri sudah banyak merancang prototipe pembangkit energi terbarukan. Namun yang menjadi masalah utama yakni belum ada pihak yang bisa memasarkannya, baik dari pihak industri maupun pemerintah.

“Ajang ini, tujuannya tidak lain untuk menggaet pihak investor, industri dan pemerintah untuk mengembangkan prototipe pembangkit tenaga energi terbarukan menjadi skala industri. Sehingga ini bisa membantu pemerintah dalam mengurangi biaya subsidi untuk energi fosil yang kian lama kian berkurang. Kami berharap pemerintah mau membantu atau menunjuk stakeholder sebagai pihak pengembang prototipe ini menjadi skala industri,” harapnya. (korankito.com/eja)