Bisa Dipercaya

Pembangkit Listrik Pakai Garam Dapur ala Mahasiswa

dsc_0262

Palembang – Sebuah bola lampu pada umumnya menggunakan tenaga listrik yang bersumber dari baterai, pembangkit listrik tenaga matahari, atau langsung melalui aliran PLN maupun media lainnya. Namun kali ini dua mahasiswa Politeknik Universitas Sriwijaya (Polsri) mengembangkan pembangkit listrik melalui sebungkus garam dapur. Dimana melalui proses kimiawi, garam dapur tersebut mampu menghidupkan sebuah bola lampu LED.

Terinspirasi dari internet, duo mahasiswa Polsri yakni M. Marco Sayputra dan Ridho Anugerah membuat pembangkit listrik tenaga garam sederhana untuk menghidupkankan sebuah bohlam 5 watt dengan energi 1 volt. Keduanya menawarkan sumber energi listrik ramah lingkungan yang cocok untuk masyarakat berekonomi menengah ke bawah. “Dari sebungkus garam yang dilarutkan, akan menghasilkan ion, dimana saat kita masukan kedalam sebuah wadah yang berisikan anoda (elektroda positif) dan katoda (elektroda negatif), akan menghasilkan tenaga listrik. Prosesnya disebut dengan elektrokimia,” jelas Marco disela pameran riset energi terbarukan di Aula umum Polsri, Selasa (18/10).

Berita Sejenis

Sambut Hari Ibu Dengan Tumpengan

Ini Penjelasan Dewi Perssik, Soal Heboh Ayu Ting Ting Mabuk

RD Punya Trik Ini Untuk Pemain Asingnya

1 daripada 3.078

Menurutnya, hasil dari proses pencampuran tersebut baru mampu menghidupkan lampu LED yang memiliki kapasitas 1 Volt. Sebab, riset yang dilakukan masih dalam skala kecil atau prototipe. “Dari konsentrasi larutan garam yang dibuat hanya 75 part per million (PPM) saja, dimana kapasitas listrik maksimal 3 volt yang mampu menghidupkan sebuah bola lampu LED yang berdurasi 5 – 6 jam saja,” bebernya.

Ridho menambahkan, tujuannya untuk meriset atau meneliti pembangkit listrik melalui bahan garam dapur tersebut agar bisa digunakan masyarakat menengah ke bawah. “Pembangkit listrik tenaga alternatif inilah yang kami ingin tawarkan sehingga bisa menjadi pilihan masyarakat untuk penerangan sementara saat terjadi pemadaman listik,” tambahnya.

Awal ide, lanjutnya, berasal dari tugas praktik saat masih duduk di semester pertama. “Berangkat dari pengalaman riset di awal kuliah lalu, kami berdua mulai tertarik untuk melanjutkan penelitian ini, alhasil setelah dilakukan pengembangan maka terciptalah alat penghasil daya listrik dari garam ini. Ke depan kami berharap, riset itu berhasil dikembangkan dan direspon dengan baik oleh dunia industri dan pemerintah,” harapnya.

Diakuinya, masih ada beberapa kelemahan dari prototipe ini, namun jika serius dikembangkan dan didanai oleh investor maka sangat berpotensi sebagai penghasil energi terbarukan yang dibutuhkan. “Kendalanya masih pada filter yang berfungsi sebagai penyaring larutan garam. Namun, setidaknya ini menjadi salah satu contoh bahwa perkembangan energi terbarukan bisa diperoleh dari apapun dalam kehidupan kita sehari-hari selama kita mau belajar,” pungkasnya. (korankito.com/eja)