Waspada Cuaca Ektrim Hingga Desember 

kepala-bmkg-klas-i-kenten-palembang-muhammad-irdam_20160913_155832_1473762955533

Palembang – Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Kenten Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) khususnya Palembang harus waspada dengan cuaca ekstrim di musim penghujan saat ini. Diperkirakan cuaca ekstrim ini akan mengintai hingga Desember mendatang.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kelas I Kenten Palembang, Indra Purna mengatakan, Fenomena Dipole Negatif yang terjadi di wilayah Pantai Barat Sumatera menyebabakan terjadinya cuaca ekstrim di Sumsel.

“Cuaca di atas batas normal ini disebabkan kombinasi masuknya musim hujan dan meningkatnya suhu muka laut di Pantai Barat Sumatera, sehingga menyebabkan banyaknya uap air,” ungkapnya Rabu (12/10).

Indra menjelaskan saat arah angin condong ke wilayah Sumsel akan menyebabkan cuaca ektrim seperti hujan yang sangat deras. Karena itu perlu diwaspadai hingga akhir tahun mendatang.

Meski akan terjadi di waktu tertentu saja, namun di musim penghujan seperti saat ini masyarakat masih perlu waspada adanya banjir dan longsor di sejumlah wilayah. Pasalnya, curah hujan sejak Oktober hingga November mendatang rata-rata per bulannya masih sangat tinggi sekitar 300-400 mili meter (mm).

Curah hujan dikhawatirkan akan menyebabkan banjir terutama di wilayah dengan dataran rendah. Seperti geografis Kota Palembang merupakan wilayah di dataran rendah dan memiliki banyak rawa. “Lahat, Pagar Alam, Musi Rawas, juga Lubuk Linggau yang termasuk wilayah Sumsel bagian barat harus waspada terhadap longsor,” jelasnya.

Dikatakannya, tahun ini musim hujan akan terjadi lebih panjang hingga Mei tahun depan, sedangkan kemarau tahun ini lebih pendek. Hal ini karena anomali suhu laut yang terus meningkat di kawasan laut Sumatera yang berpotensi membawa uap air hingga terbentuk hujan menjadi penyebab musim hujan di tahun ini lebih panjang.

“Dibandingkan tahun lalu tahun lalu kemarau lebih panjang hingga beberapa bulan. Karena kemarau dimulai sejak Mei – Oktober. Bahkan kemarau tahun lalu cukup ekstrim dan curah hujan pada Oktober mencapai 0 mm. Sementara tahun ini pad bulan yang sama curah hujan sudah di atas 200 mm,” terangnya.

Sebelumnya, Walikota Palembang Harnojoyo, mengatakan, upaya untuk meretas banjir salah satunya dengan melakukan gotong royong membersihkan lingkungan seperti yang biasa dilakukan pada hari minggu dan melakukan normalisasi drainase.

“Selain karena curah hujan yang cukup tinggi, secara bersamaan Sungai Musi juga mengalami pasang, sehingga aliran air dari anak sungai ke Sungai Musi menjadi terhambat,”tukasnya. (korankito.com/ria)