Bisa Dipercaya

Dua Kelurahan Jadi Percontohan Kampung Cabai 

img_20161011_092220

Palembang – Kelurahan Keramasan dan Kelurahan Ogan Baru Kecamatan Kertapati menjadi percontohan kampung cabai di Palembang pada Program Sosial Bank Indonesia Urban Farming Kampung Cabai, Selasa (11/10). Ini merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang.

Kepala Bank Indonesia (BI) Wilayah VII Palembang Hamid Ponco Wibowo mengatakan harga komoditas cabai yang selalu pluktuatif menjadi salah satu penyumbang inflasi di Palembang. Sedangkan Palembang sendiri menjadi salah satu titik dasar penghitungan inflasi selain Lubuk Linggau.

Berita Sejenis

Delapan ‘Teroris Jakfar’ Ditetapkan Tersangka

Juruparkir Cekoki Miras dan Perkosa Bocah SD

Kids Zaman Now Menguncangkan Dunia

1 daripada 3.081

“Kita sangat concern untuk menjaga harga komoditas ini tetap stabil dan tidak bergejolak. Karena itu kita adakan program ini sebagai salah satu upaya mengatasi inflasi di Palembang,” ungkapnya usai acara “Urban Farming Kampung Cabai” kerjasama Bank Indonesia dengan Dinas Pertanian, Perikanan & Kehutanan Kota Palembang.

Ia menjelaskan ada 5.000 bibit cabai yang dibagikan kepada lebih kurang 300 Kepala keluarga (KK) yang terbagi kedalam empat Kelompok Wanita Tani (KWT) di dua Kelurahan di kecamatan Kertapati. Dengan adanya program Urban Farming ini diharapkan kedepannya akan diteruskan dengan melakukan penyuluhan kepada KWT yang ada di setiap kelurahan.

“Kedepan  kita terus memberdayakan lahan mini yang ada dirumah mereka masing-masing serta memberikan bantuan  bibit tanaman kepada mereka.  Semoga langkah baik ini berbuah baik juga,”tutupnya.

Sementara itu Penyuluh Pertanian Keramasan Usman Apriadi mengatakan pengembangan budidaya penanaman cabai tidak sulit. Asalkan petani budidaya tersebut sabar dan mengerti cara membudidayakannya.

Usman menjelaskan bibit cabai yang akan dibudidayakan tidak harus ditanam di tanah langsung melainkan bisa menggunakan media tanam sejenis polyback. Cabai yang ditanam dengan menggunakan polyback dapat menghasilkan 1 kilo sampai 1,4 kilogram cabai segar dan bisa dipanen 10 sampai 12 kali panen .

“Warga yang memiliki pekarangan rumah yang terbatas bisa menggunakan polyback ini untuk menanamnya,” ungkapnya.

Agar cabai-cabai tersebut tumbuh subur harus disiram dengan memperhatikan waktu penyiraman yang harus dilakukan. Sebaiknya penyiraman dilakukan pagi hari sebelum pukul 6 pagi dan sore hari setelah pukul 5 sore.Setelah usia 60 hari dari bibit cabai ini akan muncul bunga dan berbuah.

“Nah di usia 70 hari sampai 90 hari cabai-cabai ini bisa di panen sampai dengan 12 kali petik,” jelasnya sembari mengatakan untuk pemupukan dilakukan satu minggu sekali.

Lebih lanjut katanya untuk satu tanaman yang di budidayakan dengan polyback bisa mengasilkan satu kilogram sampai 1,4 kilogram cabai segar. Bisa dibayangkan kalau satu KWT ada 50 pot polyback tanaman cabai sudah berapa rupiah yang berhasil dihemat oleh warga. Sepuluh sampai dua belas kali petik.

Senada di sampaikan Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda sebagai salah satu penyumbang inflasi tertinggi di sektor pertanian, program ini sangat bermanfaat untuk warga. “Kita tahu, di Palembang tingkat penggunaan bahan buku cabai sebagai pendamping makanan adalah bahan utama yang diperlukan. Seperti pembuatan cuka untuk Pempek menjadi andalan wong kito untuk penambah nafsu makan. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini bisa membantu ekonomi masyarakat setempat serta menambah KWT yang ada,” tukasnya. (korankito.com/ria)