Munas Ulang Solusi Kisruh IMI

Riduan Tumenggung, tokoh otomotif senior Sumatera Selatan

Riduan Tumenggung, tokoh otomotif senior Sumatera Selatan

Palembang – Kabar telah terjadinya konsolidasi antara pihak penggugat dan tergugat terkait kasus Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Motor Indonesia (IMI) 2015, tidak serta merta mengabaikan keputusan Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI).

“Sesuai keputusan BAORI, harus dilakukan Munas ulang. Jika tidak, akan terjadi preseden dan kebingunan di tingkat daerah,” ungkap Riduan Tumenggung, tokoh otomotif senior Sumatera Selatan, Sabtu (8/10).

Riduan menambahkan, jika Munas IMI ulang tidak terlaksana, hal ini akan menjadi catatan kelam bagi Pengurus Pusat IMI yang merupakan organisasi olahraga yang telah berumur 100 tahun lebih.

“Munas IMI ulang itu dibuat sederhana saja dengan KONI Pusat sebagai fasilitator dan tuan rumah. Yang diundang, cukup ketum dan sekum Pengprov IMI se-Indonesia. jadi pelaksanaannya dapat efektif dan efisien,” lanjutnya.

Lebih lanjut pria yang juga aktif pada beberapa organisasi olahraga di Sumsel ini menjelaskan, Munas IMI ulang dilaksanakan dengan agenda tunggal langsung memilih Ketua Umum PP IMI, agar kisruh segera diakhiri.

“Katakanlah, Pak Sadikin Aksa dipilih secara aklamasi. Lalu dipilih tim formatur dan hasil Munas IMI serta susunan kepengurusan konsolidasi diserahkan kepada KONI Pusat. Tunggu seminggu pengesahan KONI Pusat. Beres deh,” urai Riduan.

Dengan kondisi seperti saat ini, Riduan menyarankan agar Pengprov IMI di daerah seluruh Indonesai untuk tidak melakukan Musprov, guna memilih Ketua Pengprov IMI yang baru.

“Sabar dulu dong. Kalau dilakukan sekarang, legalitasnya bagaimana? Kan boleh dibilang PP IMI sekarang sudah demisioner. Daripada berimplikasi tidak sah, lebih baik tunggu setelah Munas IMI ulang,” ucapnya.

Seperti diketahui, saat ini IMI telah memiliki Ketua Umum periode 2015 – 2019 dengan terpilihnya Sadikin Aksa. Dia terpilih secara aklamasi sebagai calon tunggal menyusul tidak tampilnya Prasetyo Edi Marsudi pada penyampaian visi dan misi di Munas IMI di Jakarta, Jumat 18 Desember 2015 lalu.

Prasetyo Edi sendiri keluar dari Munas IMI karena tidak menyetujui keputusan sidang yang menginginkan pemilihan Ketua Umum IMI berlangsung secara terbuka. Karena tidak terima dengan hasil munas, Prasetyo Edi kemudian membawa kasus ini ke BAORI.

BAORI memutuskan pada Selasa (19/7) lalu, agar Munas IMI yang telah menetapkan Sadikin Aksa sebagai Ketua Umum harus diulang selambatnya 90 hari setelah diputuskan. Berarti, 19 Oktober nanti, merupakan batas waktu pelaksanaan Munas IMI ulang.(korankito.com/fran)