Palembang Akan Rolling Kepala Sekolah Satu Atap

zulinto-11

Palembang – Untuk menentukan jabatan kepala sekolah pada tingkat SD dan SMP, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Palembang melakukan sistem penyaringan berdasarkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi, kreatif, inovatif dan kooperatif.

Kepala Disdikpora Palembang, Ahmad Zulinto mengungkapkan, dari hasil penyaringan tersebut bisa saja guru SD dapat ditunjuk menjadi kepala SMP begitu pula sebaliknya. ‘’Itu kita sebut rolling jabatan kepala sekolah program satu atap,’’ ujarnya, Kamis (6/10).

Menurutnya, tindakan itu sangat diperlukan agar percepatan pendidikan bisa berjalan dengan baik. Jika selama ini calon kepala SD hanya diambil dari guru tingkat SD sendiri dan begitu juga tingkat SMP, hal yang berbeda akan dilakukan dengan mengambil calon kepala sekolah untuk SD ataupun SMP yang bisa berasal kedua jenjang pendidikan tersebut. “Seadainya saja ada wakil kepala sekolah tingkat SMP yang kreatif, inovatif dan kooperatif, misalnya dibidang adiwiyata. Apakah tidak bisa diangkat jadi kepala SD dan sebaliknya, ya bisa saja dan program ini masih kita ajukan pada Dirjen Dikdas,” ujarnya.

Zulinto mengungkapkan, seperti halnya yang dilakukan ditingkat SMP dan SMA sebelumnya, kepala sekolah tingkat SMA bisa diambil dari guru tingkat SMP. Nantinya, hal yang sama juga akan dilakukan oleh Disdikpora ditingkat SD dan SMP, tentu saja kebijakan ini diberlakukan ini setelah mendapatkan izin dari pemerintahan pusat. “Kebijakan rolling kepala sekolah seperti itu, bukan berarti kami hendak menyingkirkan guru SD. Tetapi, kami juga tengah mencari orang yang kuat dan orang yang berkompeten dibidangnya tersebut dan siapapun itu. Percepatan  peningkatan mutu pendidikan memerlukan orang yang mempunyai kemauan yang keras agar bisa segera terwujud,” tegasnya kepada Koran Kito.

Sementara itu, Kepala SMPN 20 Palembang, Endang Wahyuningsih mengatakan, pada prinsipnya untuk guru maupun wakil kepala sekolah tingkat SD untuk menjadi kepala sekolah tingkat SMP itu mungkin agak sulit diterapkan. Pasalnya, dijenjang pendidikan tingkat SD tidak ada pelajaran kimia, fisika. “Jadi, mungkin disanalah kendala pengimplementasiannya. Ya, kalau memang seperti itu arahannya dari pusat, kami mendukung 100 persen untuk percepatan peningkatan mutu pendidikan,” pungkasnya. (korankito.com/eja)