Tingkatkan Daya Serap Anak Melalui Dongeng

_dsc0168

Palembang – Guna meningkatkan metode pengajaran dan penyerapan materi untuk anak sekolah dasar (SD), Persatuan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Katholik Musi Charitas (UKCM) gelar pelatihan mendongeng di gedung Joseph lantai 3, Senin (3/10).

Kegiatan belajar mengajar (KBM) dngan proses yang lama dan monoton tentunya akan menimbulkan kebosanan. Untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan rasa bosan tersebut, pengajar dituntut
untuk kreatif dalam menyajikan bahan pembelajaran. Dengan penyajian materi pembelajaran
secara menyenangkan dan kreatif, sehingga pembelajar akan tergugah untuk terus belajar. Kemampuan guru dalam menginspirasi peserta didik untuk melakukan sesuatu juga akan semakin menambah semangat dan mempermudah peserta didik memahami materi serta mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari.

Mendongeng merupakan salah satu kegiatan pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif mencapai pembelajaran menyenangkan dan inspiratif. Melalui mendongeng, guru dapat menyampaikan materi pembelajaran secara luwes lewat kegiatan bertutur�

Ketua pelaksana acara Seminar dan Pelatihan Mari Mendongeng, Katarina Retno mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk menginsiparasi kegiatan pembelajaran yang kreatif dan ispiratif melalui kegiatan mendongeng, mengembangkan karakter positif sesuai dengan rancangan kurikulum yang berlaku melalui kegiatan mendongeng.

“Tentu saja ini juga bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas calon guru dan guru sekolah dasar yang terlibat dalam kegiatan ini melalui kegiatan mendongeng. Menginsiprasi calon guru dan guru sekolah dasar dalam mengemas materi pembelajaran melalui kegiatan mendongeng. Dan memperkenalkan Program Studi Guru Sekolah Dasar, Universitas Katolik Musi Charitas kepada guru se-Sumatera Selatan (Sumsel),” jelas dia.

Sementara itu, pemateri dan pendongeng Sumsel, Slamet Nugroho SS menambahkan, pelatihan mendongeng ini ditujukan untuk guru SD dan mahasiswa PGSD UKMC. Menurutnya, kalau teknik untuk mendongeng supaya menarik, harus bisa membawa alat peraga dan menciptakan suara-suara yang sesuai dengan cerita. Sehingga dapat membawa anak terhanyut ke dalam cerita.

“Tentu pemilihan cerita yang menarik dan dekat dengan keseharian anak juga menjadi kunci sukses penyampaian materinya. Jika temanya tidak dekat dengan mereka, maka mereka akan bosan,” jelas Kak Inug, sapaan sehari-hari pendongeng Sumsel ini.

Diakui pria kelahiran Yogyakarta ini, sebenarnya pendongeng juga disebut sebagai pencerita, karena bisa bercerita secara fiksi dan nonfiksi. “Media atau alat peraga, hanya pelengkap untuk membantu meningkatkan imajinasi anak, karena anak lebih cepat menangkap objek yang konkrit.  Intinya guru harus kreatif,” beber dia.

Kekayaan sastra di Sumatera itu besar sekali, lanjutnya, tapi penggeraknya yang kurang semarak dibanding di luar Sumatera, terutama Sumsel. “Saat ini belum ada wadah khusus untuk pendongeng di kota Palembang. Harapannya, kedepan pemerintah lebih memperhatikan dan dapat menjaga kelestarian pendongeng, mengingat semakin lunturnya budaya kita,” pungkasny. (korankito.com/eja)