Tak Lulus UKG, Wajib Ikut Program Guru Pembelajar

_ssc0046

Palembang – Guru yang tidak mencapai nilai kriteria capaian minimum (KCM) dalam ujian kompetensi guru (UKG), wajib ikuti program guru pembelajar selama 3 bulan sebelum mengikuti UKG selanjutnya untuk memenuhi KCM yang ada.

Program guru pembelajar adalah tindak lanjut dari UKG, dari hasil UKG itu ada beberapa guru yang ternyata nilainya di bawah KCM yaitu 55. Secara nasional, mereka diberikan program guru pembelajar dengan maksud guru itu bukan hanya sekedar mengajar tapi harus selalu belajar. Ada 3 jenis kegiatan dalam guru pembalajar, yaitu guru pembelajar moda daring atau guru yang secara murni mengikuti pembelajaran melalui internet. Yang kedua daring kombinasi, dimana sebagian pembelajaran tatap muka maksimal 3 kali dan sebagian melalui internet selama 3 bulan. Dan yang ketiga adalah tatap muka, untuk kegiatan ini belum dilaksanakan karena memunggu instruksi dari kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud).

Kepala bidang sekolah menengah pertama dan sekolah menengah (SMP/SM) Dinas pendidikan pemuda dan olahraga (Dispora) kota Palembang, Lukman Haris menyatakan, UKG sendiri pernah dilaksanakan diawal tahun dan banyak guru secara nasional banyak yang belum mencapai KCM-nya sehingga harus mengikuti program guru pembelajar. Untuk kota Palembang ada beberapa sekolah yang ditunjuk sebagai pusat pembelajaran bagi guru pembelajar yang dianggap Kemendikbud sudah memadai, diantaranya SMPN 8, SMAN3, SMA PGRI 2, SMKN 5, SMKN 2, SMPN 9, SMAbMetodhist 1, SMAN 5, SMAN 6 DAN SMAN 1.

“Sekolah itu dipilih oleh kemendikbud dari dapodik untuk menjadi pusat guru pembelar. Kegiatannya sendiri sudah dimulai sejak pertengahan bulan September 2016 lalu, namun tidak serentak dilaksanakan untuk setiap mata pelajarannya. Semua yang menunjuk orang atau guru dan lokasinya serta mengawasi dari Kemendikbud. Peran Dispora sebagai koordinasi, untuk memberikan informasi kapan, dimana dan siapa saja yang ikut,” jelas Lukman di ruang kerjanya, Rabu (28/9).

Pesertanya, lanjutnya, guru, kepala sekolah dan pengawas dari tingkat TK-SMA dari guru. Untuk kegiatan tatap muka itu ada yang sebagian dilakukan dalam musyawarah guru mata pelajaran (MGM), sedangkan program tatap muka dari Kemendikbud belum terjadwal.
“UKG kan pemetaan, ini untuk penindak lanjutan hasil UKG dengan nama guru pembelajar. Secara nasional hampir semua di bawah standar. Bagi mereka yang telah mencapai atau melebihi KC, mereka menjadi mentor untuk membantu proses pembelajaran dari guru pembelajar,” kata dia.

Dijelaskannya, UKG itu bukan masalah lulus atau tidak lulusnya guru, hanya ketercapaian KCM-nya saja. Di dalam UKG ada 10 modul yang berbeda dalam setiap jenjang pendidikan, kalau diantara 10 modul itu minimal ada 3 modul yang di bawah KCM, maka harus ikut program guru pembelajar. Kalau maksimal 2 yang tidak mencapai KCM mereka bisa menjadi mentor atau instruktur.

“Guru pembelajaran akan diberikan buku modul dimana nilai mereka yang lemah. Untuk 10 modul UKG didasari dari 2 kompetensi, yaitu kompetensi profesional dan pendagogik. Dimana yang diutamakan dalam penilaian itu adalah kemampuan guru memahami mata pelajaran (mapel) dan kemampuan dalam memberikan mapel itu kepada anak hingga anak mengerti,” bebernya.

Setelah selesai program ini, pada akhir tahun mereka akan melakukan UKG kembali. “Tesnya secara online. Itu program kementerian seperti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) dengan pengawas yang ditunjuk langsung oleh Kemendikbud,” pungkasnya. (korankito.com/eja)