SDN 30 Palembang Didik ABK Sejak 2013

_ssc0327

Palembang – Sekolah dasar (SD) negeri 30 Palembang, didik anak berkebutuhan khusus (ABK) sejak tahun ajaran 2013. Melalui anjuran dinas pendidikan (Disdik) provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), SDN 30 ditunjuk sebagai sekolah rujukan untuk pendidikan inklusi tingkat SD negeri,l di kota Palembang. Dimana ada beberapa SD lain di kota Palembang yang menyiapkan pendidikan dan pembinaan bagi ABK, diantaranya SDN 220, SDN 118, SDN 124, SDN 73 dan SDN 3.

Kepala SDN 30 Palembang, Nuraini mengatakan, SDN 30 ditunjuk sebagai sekolah rujukan karena mampu membina ABK paling banyak di kota Palembang. “Total siswa saat ini ada 711 orang dan 100 diantaranya ABK. Tahun lalu kami meluluskan 29 ABK, dan salah satunya ada penyandang bina daksa,” jelas dia saat ditanyai awak media di SDN 30 Palembang, Sabtu (24/9).

Guru-guru di SDN 30 sendiri terlebih dahulu sudah mengikuti pelatihan dari Disdik provinsi Sumsel, seblum ditunjuk sebagai sekopah rujukan inklusi. “Jadi para guru tidak kaget lagi ketika harus mengajar ABK, karena sudah dibekali sebelumnya,” papar wanita lulusan psikologi pendidikan tersebut.

Untuk tahun ini sekolahnya menerima beberapa kriteria ABK, diantaranya anak penyandang Autis, gagu, hiperaktif dan brmasalah di pendengaran atau tunarungu. Menurutnya, anak yang penyandang autis parah, orangtuanya harus mendampingi buah hatinya selama pelajaran. Hal ini ditujukan agar mereka (ABK) merasa lebih diperhatikan dan tidak menganggu siswa lain, pasalnya mereka dicapurkan satu kelas dengan siswa normal.

“Kami juga mwnyediakan ruang khusus bermain mereka, jadi ketika mereka jenuh belajar, mereka bisa bermain dulu di ruang tersebut sebelum kembali belajar,” ujar wanita kelahiran 2 Agustus 1960 ini.

Senada, guru kelas 2C SDN 30 Palembang, Maria Qibtya menjelaskan, ada beberapa kendala dalam mengajar ABK, diantaranya mereka sangat aktif dalam bergerak meski ditengah pelajaran. “Anaknya tidak mau diam, jadu harus dirayu dulu supaya tidak mondar-mandir saat pelajaran. Pemberian tugas juga disesuaikan, kalau anak yang normal misalkan menulisnya 10, yang ABK semampunya mereka. Yang penting mereka mau helajar,” beber dia.

Dari informasi yang didapat wartawan koran kito, Aziz kelas 2, salah satu ABK di SDN 30 Palembang yang awal mula masuk sekolah sangat sulit untuk berinteraksi dengan guru bahkan temannya. Namun, saat ini keadaannya sudah berubah menjadi lebih baik dan sudah mau berkomunikasi bahkan beain dengan teman sebayanya. Saat ditanyai mengenai cita-citanya, Aziz menjawab ingin menjadi wartawan. “Aziz mau jadi wartawan, soalnya bisa foto-foto,” jawabnya polos.

Sementara itu, wakil walikota Palembang, Ditrianti Agustinda menambahkan, pihaknya akan mengupayakan pendidikan yang layak untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Mereka harus mendapat pendidikan yang layak, karena mereka adalah anak-anak kita, saudara kita. Kita tidak boleh memandang mereka sebelah mata, apalagi jika memperlakukan mereka dengan seenaknya.

Apa yang menjadi kekurangan mereka harus kita sempurnakan, itulah tujuan utama dari pendidikan. Mereka juga memiliki bakat dan keahlian yang luar biasa dibanding orang pada umumnya. Kita harus bisa memanfaatkan apa yang ada untuk meningkatkan pelayanan baik dibidang pendidikan maupun kesehatan. “Harus kita utamakan generasi-generasi yang berpendidikan dan sehat,” tutup fitri. (korankito.com/eja)