Bisa Dipercaya

UTP Gelar PPS Dengan Atribut Selain Anjuran Kemendikbud

dscn7688

Palembang – Universitas Tridinanti Palembang gelar masa pengenalan program studi (PPS) dengan menggunakan atribut selain perlengkapan perkuliahan sesuai anjuran kemendikbud, Rabu (21/9).

Berangkat dari peraturan larangan penggunaan atribut aneh dalam pelaksanaan pengenalan lingkungan kampus yang telah dikeluarkan oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Namun sayangnya hal ini tidak serta merta dipatuhi oleh seluruh perguruan tinggi, terutama di salah satu kampus di kota Palembang.

Berita Sejenis

Dari pantauan Koran kito, salah satunya seperti yang dilakukan oleh Universitas Tridinanti Palembang (UTP) dengan tetap melakukan hal tersebut dalam pelaksanaan Proses Percepatan Adaptasi Mahasiswa (PPAM), dengan dalih menyeragamkan mahasiswa barunya. Dalam pelaksanaannya di Aula lantai 6 kampus utama tersebut, terlihat sebanyak 646 mahasiswa baru (Maba) memakai berbagai atribut yang aneh seperti selempang berwarna kuning, permen yang disusun demikian rupa menjadi kalung dan gelang, topi atau tanjak dari sejenis karton, mie instan, beras 1 kilogram, karung goni dan air mineral satu botol.

Rektor UTP Palembang, Nyimas Manisah mengakui, terkait adanya pemakaian atribut tersebut dikarenakan akan diadakannya pemilihan putra dan putri terbaik UTP yang akan dilakukan usai pelaksanaan PPAM. “Kami sudah tahu jika pakaian seperti ini dilarang. Namun dengan adanya pemilihan putra putri UTP atau seperti bujang gadis kampus, maka demi keseragaman dan bahannya mudah ditemukan jadi memakai atribut seperti ini,” dalihnya.

Dari kacamata pendidikan, indikasi kesalahan lain juga terlihat dengan dilibatkanya langsung mahasiswa senior dalam pelaksanaan PPAM tersebut. Dimana, mahasisa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampus dan BEM Fakultas ikut serta dalam prosesnya. Sedangkan, sesuai dengan peraturan dari Kemendikbud maka mahasiswa senior tidak boleh terlibat secara langsung dalam pelaksanaannya dengan tujuan untuk mengantisipasi tindakan perpeloncoan.

“Mahasiswa yang tergabung dalam BEM Kampus dan BEM Fakultas kita libatkan dalam kepanitian pelaksanaan  PPAM ini, namun tugas mereka mendampingi Maba. Kepanitiaan ini sendiri ketuai oleh Warek III UTP,” jelasnya usai di aula lantai 6 UTP, Rabu (21/9).

Sementara itu, salah satu Maba jurusan Ekonomi Perbankan, Asmar Julianto menjelaskan, tidak mengerti apa-apa tentang pelaksanaan PPAM tersebut. Menurutnya, dia hanya diperintahkan oleh pihak panitia pada saat pra PPAM untuk membawa berbagai barang seperti Mie instan, beras 1 kg, karung goni, selempang, air moneral satu botol, permen, tanjak.

“Kalau membawa permen itu disuruh panitia dalam bentuk gelang dan kalung, tanjak dipakai di kepala, Selempang dipakai di badan, sedangkan karung goni dibuat bentuk tas untuk mewadahi barang bawaan ini. Nah kalau mie instan dan beras saya tidak tahu dipergunakan untuk apa. Kegiatan ini dilakukan selama dua hari, dan saya tidak tau besok membawa atribut apa lagi,” jawabnya polos. (korankito.com/eja)