SD 10 Belum Tersentuh Walikota

_dsc0169

Palembang – Sekolah Dasar (SD) Negeri 10 Palembang yang minim sarana dan prasarana untuk kegiatan siswanya, masih belum tersentuh perbaikan dan penambahan infrastruktur baik dari pemerintah maupun pihak lainnya.

Sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1982 ini, belum pernah merasakan dan melaksanakan upacara bendera yang sebagaimana mestinya. Bahkan, dihari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada tanggal 17 Agustus lalu dan tiap tahunnya, sekolah ini melakukan upacara bendera ala kadarnya. Hal ini dilakukan oleh pihak sekolah guna untuk menanamkan rasa cinta tanah air kepada siswanya, meski mereka harus mengadakan upacara di koridor sekolah.

SDN 10 ini dibangun di atas rawa-rawa di jalan Sulthan Muhammad Mansyur lorong Sungai Hitam kecamatan Ilir Barat (IB) 1. Sekolah ini berjarak kurang lebih 150 meter (m) dari jalan raya, berada di ujung lorong Sungai Hitam yang jalannya hanya bisa dilalui menggunakan sepeda motor dengan lebar jalan tidak lebih dari 1 meter saja. Jarak tempuh dari pusat kota saja hanya memakan waktu tidak lebih dari 30 menit.

Dengan luas lahan mencapai 3000 m persegi, tidak sampai separuhnya yang digunakan untuk bangunan sekolah. Selebihnya digunakan untuk jalan setapak akses memasuki sekolah dan sisanya adalah rawa-rawa. Seluruh lantai koridornya adalah papan kayu yang usianya hampir sama dengan usia sekolah tersebut. Setiap melangkahkan kaki, terdengar suara kemericit kayu yang bergesekan dengan papan kayu lainnya. Untuk memarkirkan kendaraan bermotornya saja para guru terpaksa harus menaruh kendaraannya di koridor sekolah.

Di sekolah ini sangat minim fasilitasnya, bahkan untuk ruang perpustakaan saja mereka tidak punya. Untuk menyimpan koleksi buku bacaannya saja meminjam lemari yang berada di ruang guru, dan itu pun adalah koleksi buku lama yang saat ini belum diperbaharui kembali. SDN 10 ini hanya memiliki 6 ruangan belajar, tiap jenjang hanya memilliki satu kelas dengan jumlah siswa saat ini adalah 147 orang siswa. Hanya ada 12 orang tenaga pendidik di sekolah ini, dimana 6 orang pegawai negeri sipil (PNS) dan sisanya adalah honorer. Bahkan yang lebih membuat miris saat melihat sekolah ini adalah ruang unit kesehatan sekolah (UKS) di SDN 10 ini harus berbagi dengan mushalla dan ruang kepala sekolahnya. Jadi bisa dibayangkan, sunggu sesak dan sulit beraktivitas di ruang lingkup yang sangat kecil ini.

Bisa dipastikan anak-anak ini belum pernah mempelajari informasi dan teknologi (IT) seperti di sekolah unggulan, mengingat sekolah ini tidak mempunyai ruang IT bahkan komputer untuk praktik siswanya.

Kepala SDN 10 Palembang, Haslinawati mengatakan, pihaknya telah berkali-kali mengajukan proposal untuk renovasi gedung sekolah dan pembuatan lapangan untuk upacara dan aktivitas lain siswanya. “Baru-baru ini kami sudah mengajukan proposal kepihak pertamina plaju. Dan tanggal 6 September lalu, perwakilan mereka ibu Yani asisten menejer PT. Pertamina yang di Plaju dating untuk meninjau sekolah ini,” ungkapnya di ruang kerjanya di SDN 10 Palembang, Jum’at (16/9).

Diakuinya, pihaknya disini untuk mengabdikan diri bagi anak-anak didiknya. Kita ingin mereka mendapat perlakuan yang layak, setidaknya mereka mengikuti upacara, jadi ketika kejenjang selanjutnya mereka tidak kaget kalau mengikuti upacara. Disini (SDN 10), karena berbatas keadaan jadi tidak ada kegiatan ekstrakurikuler selain pramuka dan itu pun menumpang di halaman klenteng dekat sekolah.

“Sejauh ini belum ada tinjauan dari langsung dari walikota Palembang. Bahkan, 2013 lalu ada kunjungan dari salah satu bank nasional untuk meninjau sekolah, namun hasilnya masih saja nihil dan tidak ada pembangunan sama sekali,” tegas wanita yang sudah memimpin SDN 10 Palembang sejak tahun 2010 ini.  (korankito.com/eja)