Bisa Dipercaya

SMAN 1 Gelar Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Sains se-Kota Palembang

_dsc0156

Palembang – Sekolah menengah atas (SMA) negeri 1 Palembang gelar pelatihan guru Pembina olimpiade sains tingkat SMAN se-kota Palembang, terhitung sejak 13 – 18 September nanti. Pelatihan guru Pembina olimpiade sains ini diklaim sebagai yang pertama kali dilangsungkan di Sumatera Selatan (Sumsel). Event ini diyakini adapat meningkatkan sumber daya manusia (SDM) untuk membina siswa yang mengikuti olimpiade sains.

Kali ini SMAN 1 Palembang menggelar pembinaan untuk tiga mata pelajaran, yaitu kebumian, astronomi dan geografi. Sedangkan untuk pembimbingnya, SMAN 1 Palembang mendatangkan 4 orang pembimbing yang didatangkan dari universitas ternama di pulau jawa, seperti Universitas Dipenogoro (Undip) Semarang, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI).

Berita Sejenis
1 daripada 3.086

Kepala SMAN 1 Palembang, Nasrul Bani mengungkapkan, pelatihan ini diikuit oleh 32 orang guru Pembina olimpiade sains dari berbagai SMAN di Palembang. Diakuinya, saat ini hanya SMAN saja yang diundang karena efisiensi waktunya, dan kedepannya akan diundang seluruh SMA bahkan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang sekolahnya berpartisipasi dalam olimpiade sains.

“Total yang ikut ada32 peserta dari SMAN se-kota Palembang. Tiap Sekolah ada yang mengirim 1orang da nada juga yang mengirimkan 3 orang guru Pembina, tergantung kebutuhan sekolah mereka masing-masing. Karena sifatnya SMAN 1 saat ini hanya sebagai tuan rumah untuk pelatihannya saja,” ungkap Nasrul seusai membuka acara pelatihan tersebut di ruang disidang SMAN 1 Palembang, Selasa (13/9).

Kegiatan yang baru pertama kali dilakukan ini, tujuan utamanya yaitu tidak lain untuk meningkatkan kualitas SDM guru Pembina olimpiade sains. Tentu saja terselenggaranya kegiatan ini dengan adanya kerjasama dengan pihak pembimbing dari komunitas pembimbing dan juri olimpiade nasional dengan kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud), terutama Dinas pendidikan, pemuda dan olahraga (Dispora) kota Palembang.

Awalnya, lanjutnya, kita ingin mereka membina siswa yang mengikuti olimpiade sains, tapi mereka menolaknya karena takut nanti menimbulkan fitnah, mengingat merekalah yang menjadi juri dan membuat soalnya. Jadi, mereka hanya membimbing guru Pembina olimpiade sains saja, dengan harapan guru tersebut dapat mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat dari pelatihan kepada siswanya.

“Kalau pembinaan sains untuk siswa itu sering, ini tingkatannya sudah internasional yang diluar dari kurikulum kemendikbud karena pembimbingnya adalah dosen-dosen dari universitas ternama di Indonesia yang tidak bisa dibantah lagi keabsahannya. Tentu ini untuk peningkatan SDM guru juga, disamping untuk memotivasi siswa karena bahan yang mereka dapatkan lebih luas dari biasanya,” tambah Nasrul.

Dijelaskannya, selama ini ilmu pengetahuan siswa akan sains itu kurang tereksplor baik dari segi materi dan kesempatan pembelajaran dari sumber yang kompeten. “Kami bukannya tidak mau mengundang universitas lokal, seperti Universitas Sriwijaya (Unsri). Kami tetap ada ikatan dengan pihak Unsri, seperti dosen matematika, fisika dan kimia. Kedepannya, kami minta untuk lebih diintensif, jika ada pelatihan dibidang mereka, maka akan kami undang. Hanya saja bedanya, dosen ternama di pulau jawa ini, merekalah yang punya lahan dan bahan untuk membimbing guru dari ketiga mata pelajaran yang dibina saat ini,” tutur dia.

Sementara itu, salah satu pembimbing dari Undip, Warsito Atmodjo menambahkan, kalau pembinaan kebumian bagi anak itu rutin kita lakukan dari tingkat nasional ke internasional. Sedangkan, pembinaan guru belum seintensif pembinaan anak. Pembinaan guru-guru tersebut masih sebatas kebijakan dan inisiatif dari daerah masing-masing. “Kota Palembang termasuk bagus bisa mendatangkan dan membina guru untuk tingkat nasional. Ini juga merupakan terobosan yang sangat baik, agar bisa setara dengan sekolah lain yang pernah juara,” ujar Warsito di tempat dan waktu yang sama dengan Nasrul.

Untuk pembinaan dan pelatihan peserta baik guru Pembina di Sumsel masih perlu pembenahan, kebanyakan saat waktu sudah dekat dengan perlombaan, barulah mereka di bina, dan idealnya siswa yang mengikuti lomba itu kelas 11, jadi selama setahun dari kelas 10 mereka sudah secara intens dilatih. “Untuk pulsu Jawa, hampir semua provinsi bahkan kabupaten/kota yang melakukan pelatihan untuk guru Pembina olimpiade sains. Sementara untuk pulau Sumatera baru kota Medan dan Palembang saja, dan harapannya akan merata di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (korankito.com/eja)