SFC Sebut Umuh Muchtar Tidak Gentle

img_4780

Palembang – Laga antara Sriwijaya FC melawan Persib Bandung, Sabtu (10/9) kemarin yang berakhir dengan kemenangan telak 3-0 untuk tuan rumah rupanya berbuntut panjang. Pernyataan manajer Maung Bandung Umuh Muchtar yang menyebut adanya kesepakatan antara wasit yang memimpin pertandingan yaitu Fariq Hitaba dengan SFC memicu amarah keras dari manajemen Laskar Wong Kito.

“Tidak sepatutnya tokoh sepakbola sekelas Umuh Muchtar melontarkan pernyataan seperti itu dan kami sangat menyayangkannya. Seharusnya beliau melihat kembali rekaman pertandingan dan protes sesuai jalurnya ke Komdis TSC,” ungkap sekretaris PT SOM, Faisal Mursyid saat dihubungi Selasa (13/9) pagi.

Selain itu, tudingan adanya kesepakatan antara SFC dengan wasit juga diakuinya sebagai fitnah dan harus dibuktikan oleh Umuh Muchtar. “Semua yang menonton pertandingan kemarin rasanya melihat bagaimana SFC meraih kemenangan dengan cara ksatria, melalui perjuangan keras dan semua golnya pun bersih. Selain itu kami pun memprotes keras beberapa keputusan wasit yang merugikan SFC seperti saat Sergio Van Dijk tidak diusir keluar usai melanggar Rizky Dwi Ramadhana, padahal saat itu Sergio sudah menerima KK pertama,” tambahnya.

Pihaknya pun merasa heran dengan inkonsistensi Umuh yang sebelumnya saat di Palembang mengakui kemenangan SFC, namun saat tiba di Bandung justru berkata sebaliknya.

Achmad Haris, sekretaris tim SFC juga melontarkan kritik keras untuk Umuh Muchtar terkait pernyataannya ini. “Saat di lapangan, dia bertemu saya dan berkata bahwa kedua tim dirugikan oleh wasit. Mari kita hormati fair play dan jangan mencari kesalahan, apalagi sampai menuding SFC membuat kesepakatan dengan wasit, mengapa tidak disampaikannya saat di Palembang atau ketika jumpa pers usai pertandingan kemarin, harusnya gentleman,” keluhnya.

Menurutnya, selama ini SFC pun mencoba menghormati fair play saat berlaga di kompetisi TSC 2016. “Saat kalah dari Semen Padang dan Persegres, silahkan dicek apakah kami melakukan protes. Tidak, karena memang performa tim memang tidak bagus saat itu, baru saat di Bali kami melakukan protes dan melalui mekanisme yang resmi yakni bikin surat ke Komdis disertai bukti rekaman video,” tambahnya.

Dirinya pun menolak anggapan bahwa tim yang melakukan protes jika hanya menerima kekalahan saja. “Saat melawan Persija Jakarta yang berakhir kemenangan untuk kami, SFC tetap memprotes wasit karena mengabaikan penalti untuk Beto. Begitu juga saat menang telak 6-1, kami juga mengirim surat karena adanya KK aneh untuk Beto sehingga yang bersangkutan terkena akumulasi di partai selanjutnya melawan Arema, dan terakhir sewaktu imbang dengan PBFC, kami jelas mempertanyakan pergantian wasit saat pertandingan. Sekarang kami menunggu kelanjutan pernyataan Umuh yang menyebut adanya kesepakatan antara wasit kemarin dengan SFC,” tegasya.

Pernyataan Umuh yang terkesan melakukan ‘kampanye’ saat jumpa pers usai pertandingan sebenarnya juga menjadi catatan pihaknya. “Mari kita sama-sama benahi sepakbola Indonesia, namun bukankah dalam proses KLB semua ada mekanismenya, termasuk juga masa kampanye. Kalau kemarin kan terang-terangan ada pernyataan yang tegas mendukung salah satu calon,” cetus Haris.

Sebelumnya, Umuh Muchtar saat tiba di Bandung, Minggu (11/9) menuding kubu SFC sudah membuat deal dengan wasit saat laga berlangsung. “SFC sengaja bermain keras agar pemain kami emosi, sebagai contoh Jupe yang menyikut Kim Kurniawan. Kenapa Jufrianto berani nyikut? Karena sudah dijamin oleh wasit dan ada deal dengan wasit. Sementara tim kami banyak kena kartu kuning,” ucap Umuh saat itu. (korankito.com/resha)