Anak Disiksa Bos, Orangtua Lapor Polisi

img-20160907-wa0027

Palembang – Tak terima anak kandungnya, Dandi (5) telah dianiaya oleh bos tempatnya bekerja, membuat Evarianda (30) warga Lorong Rambutan, RT 31, Rw 01, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat (IB) II Palembang, mendatangi Mapolresta Palembang, Kamis (8/9) pagi.

Kedatangannya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Palembang, untuk melaporkan Ade (30) seorang wanita pemilik toko pempek tempat Eva bekerja atas tuduhan sudah melakukan penganiayaan terhadap anaknya.

Berdasarkan data yang dihimpun, kejadian yang menimpa anaknya bermula pada Rabu (7/9) sekitar pukul 17:00 WIB. Dimana saat itu, ia sedang berkerja di toko pempek milik terlapor yang berada di kawasan Jalan Merdeka, tepatnya di dalam bekas gedung SMP Veteran.

Lalu, korban yang saat itu ikut ibunya bekerja sedang bermain-main. Tanpa disadari, Dandi memegang sebuah pena dan mencoret-coret etalase tempat jualan pempek serta menyibukkan beberapa lembar nota pembayaran pelanggan yang sedang makan disana.

Terlapor yang melihat perbuatan korban, langsung naik pitam dan marah-marah kepada Dandi. Korban pun langsung diangkat terlapor, lalu dibantingnya ke kursi, serta langsung menampar mulutnya. Tidak hanya itu, sebagai hukuman ulahnya, korban di jemur oleh terlapor.

Evarianda yang melihat anaknya dipukul, hendak mengambilnya. Namun, terlapor melaranngya. Tak senang dengan perbuatan Ade, ibu korban akhirnya membuat pengaduan di SPKT Polresta Palembang.

“Saya mau ambil anak saya itu, tapi dilarangnya katanya sebagai pelajaran untuk anak saya. Kami tidak senang senang dengan perbuatannya, makanya kami memilih lapor polisi. Namanya juga anak-anak, mereka belum mengerti apa-apa,” ujar ibu korban Eva.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Maruly Pardede mengatakan pihaknya telah menerima laporan dari korban. Selanjutnya akan dilakukan penyelidikan oleh anggota Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Palembang.

“Berkasnya kita serahkan ke Unit PPA Polresta Palembang untuk proses penyelidikan, korban juga kita suruh untuk visum terlebih dahulu. Nanti, kalau terlapor bersalah, tentu akan kita proses hukum yang berlangsung, dan terancam UU Perlindungan Anak,” jelasnya. (korankito.com/denny)