Pasangan Menikah Mudah Rentan Dengan Perceraian

alamat-kantor-pengadilan-agama-palembang

Palembang – Jejeran kursi di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Palembang tidak pernah kosong. Setiap harinya jejeran kursi tersebut selalu diisi oleh oang-orang yang akan mengikuti persidangan maupun yang akan mengajukan gugatan di Pengadilan Agama (PA) Palembang. Seperti hari ini, akan ada sedikitnya 50 persidangan yang rata-rata merupakan pengajuan gugatan sidang perceraian.

Tampak duduk di salah satu jejeran kursi di ruang tunggu Pengadilan Agama Devi Mayasari perempuan berusia 21 tahun duduk di jejeran barisan kursi paling belakang. Tampil sedikit modis mengenakan celana jeans dan blouse sedikit ketat polesan lipstik dan bedak tipis, Devi yang ditemani kedua orang tuanya tampak siap menghadapi persidangan pengajuan gugatan cerai yang dilayangkan untuk suaminya.

Saat diamati tidak tampak kesedihan di raut perempuan muda yang berdomisili di wilayah Kecamatan Kertapati ini. Bahkan terkesan tidak sabaran menunggu jadwal sidang, Devi selalu menoleh ke kanan dan kekiri mencari pak satpam yang bertugas memanggil nama-nama yang akan mengikuti sidang pagi hari ini.

Laki aku galak ngelakuke kekereasan dalam rumah tangga (KDRT) yuk. Aku la dak tahan lagi,” buka Devi saat ditanya mengapa mengajukan gugatan.

Sambil sesekali memainkan handphone smartphone miliknya, dengan lancar Devi mengatakan ia memang menikah muda dengan suaminya pada saat dirinya berusia 20 tahun. Usia sang suami tiga tahun diatas usianya. Sebelumnya rumah tangga yang dijalaninya tidak ada hambatan meskipun sang suami hanya seorang supir angkot.

Bahkan untuk membantu perekonomian keluarga, Devi bekerja di Pasar Induk Jakabaring.”Jadilah yuk untuk bantu-bantu ekonomi rumah tanggo aku,” jelasnya tanpa mau menyebutkan nama suaminya.

Devi pun meneruskan sejak menikah sudah terlihat suaminya ringan tangan. Kendati demikian ia pun tetap bersabar. Namun kesabaran itu ada batasnya, hingga ia pun mengajukan gugatan kepada suaminya karena sudah tidak tahan lagi menerima perlakuan kasar dari suaminya. “Biarlah yuk, aku la dak sanggup lagi,” tukasnya.

Selain Devi ada juga Susi, perempuan berusia 24 tahun yang juga berdomisili di Kecamatan Kertapati, Sungki ini tampak takut-takut saat akan memasuki ruang tunggu Pengadila Agama (PA) Kota Palembang. Saat ditanya keperluan apa medatangi kantor PA, Susi menanyakan syarat untuk mengajukan gugatan.

Bahkan tidak bisa membendung lagi kesedihannya, Susi langsung menangis sesenggukan saat kembali panitia memberikan penjelasan mengenai syarat-sayart pengajuan gugatan. “Untuk apo lagi diperatahanke yuk kalau sudah dak sejalan lagi,” ujarnya sembari sesenggukan menangis.

Pernikahan yang telah dibangun selama enam tahun harus berakhir di ruang sidang pengadilan. Kendati demikian ibu satu anak ini mantap untuk mengajukan gugatan. Inilah fenomena kehidupan rumah tangga yang banyak dialami oleh pasangan yang menikah muda.

Terkadang diusia pernikahan yang masih terbilang seumur jagung banyak pasangan muda yang memutuskan untuk bercerai. Entah apa yang ada di pikiran pasangan muda tersebut hingga dengan mudahnya memutuskan menikah tetapi mudah juga mengajukan gugatan cerai kepada pasangannya.

Menanggapi hal ini, pengamat Sosial Yunindiyawati yang mengatakan adanya fenomena perceraian dikalangan pasangan muda ini dikarenakan belum adanya kesiapan mental dan emosional yang kuat dalam diri pasangan ini.

Bahkan menikah muda didasari hanya dengan cinta sesaat atau dilatar belakangi karena sudah berhubungan terlalu jauh hingga menyebabkan kehamilan. “Simple saja, pasangan ini tidak punya persiapan saat menikah terutama emosi dan mental yang kuat, bisa karena cinta buta,” ungkapnya.

Yuni menjelaskan saat ini nilai-nilai atau norma-norma yang ada di masyarakat dan keluarga inti sudah banyak yang hilang. Terlebih adanya pengaruh dari pergaulan, tingkat pendidikan dan pendapatan dari pasangan muda ini menyebabkan para pasangan yang menikah muda ini merupakan pasangan yang berada di tingkat menengah.

Menurut Yuni, Pasangan muda yang menikah sekarang ini sudah tidak lagi mengerti arti dari nilai pernikahan. Kesakralan suatu pernikahan tidak lagi menjadi acuan pasangan muda ini. Setelah itu tidak adanya sosialisasi dari orang tua mengenai nilai dan peran seseorang dalam keluarga.

“Contohnya peran suami itu apa, peran istri itu apa. Pasangan muda ini belum terinternalisasi seperti apa dan jangan-jangan sekarang nilai-nilai itu sudah hilang,” ungkapnya.

Karena itu tambah Yuni ada baiknya seseorang yang akan menikah harus terlebih dahulu mengetahui konsep dan arti dari sebuah lembaga pernikahan. Ada banyak kendala-kendala yang akan dihadapi oleh orang yang sudah berumah tangga. Karena itu diperlukan kesiapan mental dan emosial untuk bisa membawa permasalahan yang ada di dalam rumah tangga dengan menyelesaikannya dengan kepala dingin dan pemikiran yang dewasa.

Untuk itu sangat dianjurkan usia untuk seseorang bisa dikatakan sudah cukup untuk menikah juga harus disesuaikan. Faktor usia bisa menjadi salah satu landasan seorang perempuan untuk berumah tangga. “Kalau dulu usia 21 tahun sudah bisa . kalau bisa usia 24 tahun atau lulus sarjana bagi perempuan yang telah memasuki perguruan tinggi untuk usia ideal menikah,” pungkasnya. (korankito.com/ria)