Bisa Dipercaya

KPK Sita Setoran Biaya Haji Bupati Yan Anton

IMG_3293Jakarta – Penyidik KPK sudah menetapkan Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian menjadi tersangka kasus korupsi. Yan diduga menerima suap dengan modus ijon dari proyek anggaran Disdik pada 2017. “Iya kan udah jadi tersangka,” jelas Ketua KPK Agus Rahardjo di KPK, Jl Imam Bondjol, Jakarta, Senin (5/9).

Bupati Yan diciduk pada Minggu (4/9) sore di Banyuasin usai melakukan pengajian. Yan tiba di KPK, Senin dinihari dan langsung diperiksa.

Agus menyampaikan, bersama Yan ditangkap empat orang lainnya. KPK sudah mengintai Yan sejak lama. “Sudah cukup lama ya. Kita bisa dengan dua cara, bisa dari laporan masyarakat, bisa kita penyelidikan sendiri, ya kalo yang ini nggak perlu saya buka,” katanya.

Berita Sejenis
1 daripada 6

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menambahkan, KPK juga menangkap Rustami selaku Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuasin dan Umar Usman selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin di rumah dinas Bupati Banyuasin.

Kemudian KPK menangkap Sutaryo selaku Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin dan Kirman selaku swasta yang bertugas sebagai pengepul dana. Lalu seorang pengusaha bernama Zulfikar Muharrami juga ditangkap.

Dari tangan Yan, KPK menyita uang Rp 299.800.000 dan USD 11.200. Kemudian dari tangan Sutaryo, KPK menyita Rp 50 juta. Lalu dari tangan Kirman, KPK menyita bukti setoran biaya haji ke sebuah biro perjalanan haji sebesar Rp 531.600.000.

“Uang Rp 531.600.000 untuk berdua, suami-istri. Uang itu diduga pemberian dan fasilitas biaya haji itu dari ZM (Zulfikar Muharrami) tadi itu (untuk Yan dan istrinya,” kata Basaria.

Pemberian itu dilakukan Zulfikar atas permintaan Yan yang memanfaatkan sejumlah proyek di wilayahnya. Yan melihat adanya kesempatan untuk meminta uang kepada para pengusaha yang ingin mendapatkan proyek di wilayahnya.

Atas perbuatannya, KPK menetapkan Yan, Rustami, Umar, Kirman, dan Sutaryo sebagai penerima suap dengan sangkaan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.drsd/berbagai sumber