Jual Shuttlecock Demi NPC

P_20160901_122108

Palembang – Setelah sebelumnya mengadukan perlakuan dari pemerintah kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Selatan, para atlet National Paralympic Commite (NPC) Sumsel tersebut masih belum ditanggapi secara serius oleh Pemerintah. Yang ada, hanya pelayangan surat untuk melengkapi administrasi serta rekening bank atlet NPC. Hal ini dikatakan Ryan Yohwari sebagai ketua umum yang menaungi para atlet disabilitas tersebut. Menurutnya sampai saat ini baik kunjungan yang dijanjikan Komisi V bersama Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga maupun kucuran dana belum juga turun. Sehingga saat ini mereka harus bertahan di kondisi yang sulit.

“Belum ada tanggapan. Paling ada surat yang sampai ke kita, meminta untuk melengkapi administrasi yang belum lengkap serta rekening bank para atlet,” ujarnya.

Selain itu, Ryan juga menyesalkan jika mereka dianggap tak tau berterima kasih, seperti yang diberitakan oleh salah satu media lokal di Sumsel. Ia merasa sangat disesalkan karena sebelumnya mereka ditolak untuk bisa menginap di Wisma Atlet tersebut. “Memang kemarin kita mengajukan surat untuk Kadispora agar kami diperbolehkan untuk menginap di Wisma Atlet. Namun yang muncul surat penolakan. Suratnya sekarang masih ada,” uajrnya yang juga atlet disabilitas tingkat dunia tersebut.

Namun ia tak ingin berputus asa, hingga akhirnya ia bersama rekan yang lain ditolong oleh Saki dan Taufik dari pihak UPTD. Sehingga mereka bisa tinggal sementara di Building A Wisma Atlet hingga sekarang. “Kami berterima kasih pada mereka,” ungkapnya.

Namun sekarang ke-104 atlet dan official NPC menghadapi masa yang sulit. belum keluarnya kucuran dana dari pemerintah menyebabkan mereka harus berkorban untuk memperjuangkan kehidupan mereka. “Sekarang sitasinya sulit. Banyak dari kami yang rela berkorban menjual barang. Mobil saya dijual, belum teman-teman yang lain,” ujarnya.

Bahkan menurut beberapa atlet, mereka banyak yang diusir oleh pemilik kontrakan lantaran menunggak pembayaran. Mereka membutuhkan biaya lain untuk menghidupi Training Camp mereka sendiri selama pra-Peparnas (pekan Paralympic Nasional,-red) ke-16 tersebut.

Ryan sendiri demi menutupi biaya katering untuk makan atlet, rela harus berjualan shttlecock (bola bulutangkis,-red). Brand yang diberi nama Ryan shuttlecock ini menjadi tumpuannya dalam menutupi bbiaya  makan rekan-rekannya sehari-hari. Ia menjajakan bola-bola tersebut di hall-hall bulutangkis. “Lumayanlah,” ujarn ya singkat.

Meskipun demikian, Ryan mengaku bersyukur m,asih banyak yang memberikan mereka dukungan meski hanya lewat sms dan telfon. Muali dari pensiunan, masyarakat hingga politikus. Sehingga saat ini dirinya masih kuat memperjuangkan nasib rekan-rekannya menghadapi Peparnas kedepan. “Kita masih berjuang untuk itu. Jika berhenti, maka perjuangan kita juga terhenti. Tapi saya berterima kasih kepada masyarakat yang saat ini masih memberikan support kepada kami baik lewat telefon, maupun sms,” pungkasnya. (korankito.com/akas)