HT : Konsekuen & Konsisten Kunci Sukses Berbisnis

IMG_2035Palembang- CEO MNC Hary Tanoe Soedibyo (HT), menggelar ramah tamah dengan pelaku bisnis yang ada di Sumsel. Dalam ramah tamah tersebut, HT bercerita asal muasal ia membangun kerajaan bisnisnya yang berpusat di Ibukota Jakarta. Menurutnya dibutuhkan kerja keras untuk bisa berhasil dalam menjalankan suatu bisnis yang dirintisnya mulai dari nol.

HT mengakui memang tidak mudah membangun usaha dan bisnis agar menjadi unggul dan mapan. Seseorang minimal harus konsekuen dan konsisten. Permasalahan saat ini untuk memulai bisnis dan menjadikan  bisnis tersebut lebih baik karena banyak yang tidak konsekuen dan konsisten.

Menurut HT, untuk bisa menjadi seperti sekarang tentunya dibutuhkan kerjakeras, cepat dan tepat sasaran. Mulai dari ide-ide, inovasi dan kemampuan menganalisa kesempatan dan peluang yang dibutuhkan. Seperti itu juga seorang pemimpin suatu negara. Ia menjelaskan bahwa negara ini membutuhkan pemimpin yang memahami persoalan, dan dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Untuk membangun ekonomi bangsa dibutuhkan pemimpin bisnis yang handal di setiap daerah. Sangat mungkin dikembangkan jiwa enterpreneurship pada diri setiap orang untuk dapat menjadi pemimpin yang handal. Pasalnya untuk mencetak pemimpin bisnis yang handal dibutuhkan sedikitnya 2 persen penduduk tiap kabupaten/kota untuk menjadi enterpreneur.

“Nah enterpreneur yang konsekuen tersebut adalah mereka yang memahami dan menjalani proses yang akan dicapai dalam berbisnis,” bebernya.

Diakuinya, memang tidak  mudah menjalaninya karena akan banyak tantangan yang dihadapi. HT mencontohkan CEO Google yang merupakan pebisnis dan konsekuen sejak dari awal.

“Ini yang kita butuhkan saat ini bagaimana membangun UKM dan usahawan yang andal yang mampu menyerap tenaga kerja,”ujar HT.

Agar Indonesia menjadi lebih baik, menurut HT, pemimpin harus bisa menumbuhkan wirausahawan yang produktif, konsekuen dan konsisten di bidangnya. Sayangnya, di Indonesia hanya sedikit jumlah wirausahawan muda yang produktif, sehingga penciptaan lapangan pekerjaan masih sangat sedikit. “konsekuensinya rasio pajak juga rendah, dan untuk meningkatkannya perlu ditambah,” jelasnya.

HT pun menilai saat ini kesenjangan sosial di Indonesia masih terjadi. Pemeratan pembangunan juga belum berimbang. Hanya beberapa daerah saja seperti Jakarta, Surabaya yang maju dan beberapa pembangunan daerah lain belum terjadi. Begitu juga tumbuh kembangnya wirausawan baru di beberapa daerah maju saja.

“Ini terjadi lantaran kita belum siap menghadapi kapitalisme. Kita tidak siap secara kesejahteraan dan pendidikan. Akibatnya dari 514 kabupaten/kota seindonesia hanya sebagian kabupaten/kota saja yang terbangun,”ujarnya.

“Pembangunan harus dilakukan dengan membangun wirausahawan yang lebih produktif hingga ekonomi Indonesia ditopang oleh orang banyak. Kedepan strateginya harus diubah,”tukasnya.korankito.com/ria