Polda Sita 1 Kg Shabu dan 7.000 Ekstasi

IMG_9248Palembang-Jajaran Ditres Narkoba Polda Sumsel kembali menggagalkan peredaran narkoba di Sumsel sebanyak 1 kilogram shabu dan 7.000 butir ekstasi.

Pengungkapan kasus ini bermula dari informasi nyanyian tersangka Taufik   yang menyebutkan akan ada transaksi narkoba, Sabtu (20/8). Dari nyanyian Taufik, petugas kemudian berhasil membekuk dua pelaku lagi yakni pasangan Hurhasan dan Nila Sari yang ditangkap di daerah Kabupaten Banyuasin.

Saat penangkapan Nurhasan dan Nila, petugas juga berhasil mengamankan buku rekapan hasil penjualan narkoba. Setelah diperiksa, keduanya mengaku barang bukti berupa 1 kilogram shabu dan 7.000 butir ekstasi disimpan, di sebuah rumah di sekitar Simpang Sungki, perbatasan Palembang-Ogan Ilir (OI).

Saat penggeledahan, petuga mendapati hp salah satu tersangka berdering dari tersangka Herman dan memberitahukan jika ada orang yan akan memesan shabu sebanyak setengah kilogram yang diketahui dari Lapas Pakjo. Dari petunjuk hape tersebut, petugas pun berhasil membekuk Herman.

Saat dilakukan pengembangan, terungkap juga dua orang narapidana yang masih menjalani masa hukuman di Lapas Pakjo yakni Marhadi dan M Daud alias Abah yang diketahui menjadi pengendali transaksi narkoba di lapas Lakjo.

Dir Ditres Narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Irawan Davidsyah, mengatakan, keenam pelaku merupakan jaringan antarprovinsi dan  memang salah satu tersangka sudah menjadi target sejak lama. Namun, pihaknya baru bisa melakukan penangkapan beserta barang bukti saat mendapat informasi dari Taufik.

“Berdasarkan informasi dari masyarakat akan ada transaksi narkoba. Kita pun menangkap TF (Taufik-red) dan melakukan pengembangan hingga berhasil menangkap kelima pelaku lainnya,” ungkap Davidsyah, saat gelar perkara di Mapolda Sumsel, Selasa (30/8).

Disinggung mengenai keterlibatan masing-masing pelaku, David mengatakan, saat ini para pelaku merupakan pengedar yang dikhususkan di Sumsel. Sedangkan barang bukti merupakan barang hasil dari daerah Aceh.

“Saat ini baru pengedar, sebab bandar besarnya berada di luar Sumsel. Kita masih dalami dulu dengan melakukan penyelidikan lebih mendalam. Keenam tersangka akan dikenakan pasal 112  dan 114 KUHP,” pungkas David.

Sedangkan salah satu pelaku MH mengaku dirinya mendapatkan upah dari hasil setoran awal sebesar Rp40 juta rupiah yang kemudian dibagi rata.

“Rp40 juta dibagi, kalau bandar besarnya berada di Aceh, itu kenalan NL dan NH. Saya hanya menjual saja di Lapas,” katanya.korankito.com/kardo