Pengamat : Kenaikan Harga Rokok Jangan Digembar Gemborkan

KTR

Palembang – Pengamat ekonomi Yan Sulistyo mengatakan adanya isu kenaikan harga rokok sampai dengan Rp 50 ribu per bungkus dikarenakan adanya kesalahpahaman penerimaan informasi kepada khalayak umum. Isu kenaikan harga rokok ini muncul yang berasal dari hasil kajian kelompok prokesehatan. Yakni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).

“Jadi isu itu bukan rencana pemerintah yang akan menaikkan harga rokok. Pemilik warung rokok di Palembang tidak usah khawatir dengan isu itu,” ujarnya, Selasa (23/8) saat dihubungi via telepon.

Menurut Yan, sampai saat ini pemerintah belum menetapkan besaran kenaikan tarif cukai rokok untuk 2017 mendatang. Bahkan aturan terbaru mengenai harga jual eceran atau tarif rokok pun belum ada. Mungkin memang akan ada rencana menaikkan harga cukai rokok yang memang nantinya akan berpengaruh dengan harga jual rokok di pasaran.

Namun, bukan berarti harga rokok akan menjadi Rp 50 ribu perbungkusnya. “Tidak sampailah dikisaran harga segitu. Paling tinggi di kisaran harga Rp. 25 ribu sampai Rp. 30 ribu. Intinya jangan terlalu di dramatisirlah” jelasnya.

Yan menjelaskan memang akan ada beberapa dampak yang nantinya akan terkena imbas jika ada kenaikan  harga cukai rokok tersebut. Dampaknya itu diantaranya akan terganggunya perekonomian pedagang menengah ke bawah. Dengan kenaikan harga rokok di pasaran tentunya akan mengurangi pendapatan penjualan mereka.

Karena bukan tidak mungkin akan mengurangi daya beli dari masyarakat. Sedangkan dari sisi pemerintah, tambah Yan, tidak akan terlalu memberikan dampak atau pengaruh yang besar. Pasalnya sejak lima tahun yang lalu pemerintah kota Palembang sudah mengeluarkan aturan melalui Perda Larangan merokok di tempat umum seperti di sekolah-sekolah, masjid dan beberapa tempat umum lainnya lainnya.

Meskipun Peraturan daerah (Perda) larangan merokok di tempat umum belum efektif setidaknya mampu menekan masyarakat yang merokok di tempat yang telah dipasang tanda larangan untuk merokok.

Selain itu, lanjutnya, dampak kriminalitas pun bisa terjadi yang dilakukan oleh masyarakat kategori pengangguran dengan tingkat pendidikan yang rendah. Dengan adanya kenaikan tersebut akan mengakibatkan tidak mampu lagi untuk membeli barang tersebut maka akan membuat aksi yang sebetulnya hal tersebut kejahatan ringan menjadi kriminal. Seperti membongkar warung-warung rokok atau minimarket.

“Hanya saja kalau terjadi kenaikan secara ekonomi akan berdampak terhadap inflasi. Karena salah satu indikator terjadinya inflasi tersebut salah satunya dari harga rokok juga. Tentunya pemerintah akan pikir-pikir untuk itu,” tukasnya.

Dian, salah satu kasir di salah satu minimarket di Palembang mengatakan sampai saat ini harga rokok masih normal. Menurutnya adanya wacana kenaikan harga rokok dipasaran disikapi pihak tokonya dengan santai. “Iya kabar nya seperti itu. tapi belum ada selebaran pemberitahuan kenaikan harga tersebut,” tukasnya. (korankito.com/ria)