Bisa Dipercaya

Jangan Anggap Sepele Penyakit Lupa

IMG_20160816_134926_1471749389025

Palembang – Jangan anggap sepele dengan yang namanya penyakit lupa atau pikun. Masyarakat terkadang menganggap penyakit lupa atau pikun dikarenakan pengaruh dari usia yang sudah lanjut. Padahal pikun merupakan suatu penyakit yang disebabkan menurunnya fungsi otak atau kemampuan kerja otak secara progresif dan harus di waspadai karena akan berakibat fatal dan bisa menyebabkan kematian.

Dokter Syaraf Rumah Sakit Siloam Sriwijaya, dr Jimmi Sabirin SpP mengatakan, menurunnya kemampuan otak mengakibatkan gangguan berfikir, mengingat, mental emosi dan perilaku. Gejala seperti inilah yang biasa dikenal dengan istilah pikun.

Berita Sejenis

Dijambret, Mahasiswi Kehilangan Ponsel

Mangkir Latihan, Nasib Bio Diserahkan Kepelatih

‘Mandra’ Diciduk Polisi Saat Pulang Kerumah

1 daripada 3.095

“Sebenarnya itu penyakit, namanya Demensia. Penyakit ini banyak terdapat usia diatas 65 tahun. Namun belakangan, usia dibawah itu juga bisa ditemui. Baiknya segera diobati karena akan berakibat fatal juga,” terangnya, kepada awak media di RS Siloam Sriwijaya usai meresmikan klinik Memory Aging Centre.

Dia melanjutkan, penyakit demensia terdiri dari beberapa tingkatan yang memiliki jenis berbeda- beda. Namun, yang paling banyak ditemui 80 persen adalah jenis Alzhemier. “Demensia jenis ini, paling umum yang awalnya ditandai oleh melemahnya daya ingat, hingga gangguan otak dalam melakukan perencanaan, penalaran, persepsi, dan berbahasa,” paparnya.

Sedangkan Demensia Vaskuler berkisar 20 persen dan demensia fronto temporal sebesar 5-20 persen. Jenis demensia yang lain dapat timbul secara campuran, di bagian otak bisa terjadi Demensia Vaskuler dan Demensia Alzhemier. Gejala demensia, terjadi pada daya ingat dimana penderita dapat mengulang-ulang pertanyaan.

“Dan penderita juga akan kesulitan untuk berbicara serta bahasa. Dimana, tingkah laku dan kejiwaan akan terganggu. Karena muncul sifat apatis hingga delusi (berhalusinasi),” terangnya.

Dia menambahkan, ada satu jenis deminsia yang paling sulit ditangani adalah demensia Frontotemporal. Karena pasien pada penyakit jenis ini, akan melakukan tindakan yang terbilang tidak baik, seperti suka mengompol. Sifat jorok dengan tidak peduli lagi akan kebersihan diri nya sendiri.

“Mereka cenderung tidak peduli akan kebersihan atau kerapian diri sendiri, seperti mengompol ataupun tidur dengan kondisi tempat yang penuh feses serta tidak ingin sikat gigi. Untuk penanganan yang tepat pada penderita demensia Frontotemporal yakni, dengan melakukan diagnosis ataupun pengecekan sejak dini,” jelasnya.

Sementara Direktur RS Siloam Sriwijaya, 
Hariyanto Solaeman menambahkan, melihat akan kebutuhan penyakit ini maka pihaknya menyediakan klinik Memory Aging Centre (MAC) yang memberikan pelayanan khusus untuk pengobatan penyakit Demensia terdiagnosis.

“Klinik pertama yang ada di Sumsel ini, tidak khusus diperuntukan bagi para pasien yang telah terkena penyakit Demensia. Namun, masyarakat yang ingin melakukan deteksi awal pun dapat berkunjung ke klinik ini,” katanya.

Mengenai tarif pemeriksaan, dia mengungkapkan, saat ini pihaknya masih menetapkan harga terjangkau yakni Rp 600 ribu dan dapat potongan sebesar 20 persen.

“Selama tiga bulan kedepan, pasien yang melakukan pemeriksaan akan mendapatkan diskon dengan mengambil paket pemeriksaan. Klinik buka Selasa dan Kamis, pukul 08.00 – 12.00 WIB,” tutupnya. (korankito.com/ria)