Begal Motor, Genk Pelor Ditangkap Petugas

IMG_8988

Palembang – Genk Pelor, inilah sebutan untuk kelompok empat anggota yang tergabung dalam geng motor ini akhirnya harus diciduk polisi karena kerap melakukan aksi begal.

Namun, anggota komplotan ini tak seperti yang digambarkan dari nama genk tersebut. Seluruh anggota bahkan masih di bawah umur dan sebagian pelajar SMP dan SMA di Palembang.

Keempat pelaku adalah berinisial MRZ (17) yang berstatus sebagai panglima Genk Pelor, MM (17) sebagai wakil ketua, serta dua anggotanya berinisial FAA (15) dan MS (15). Semuanya tinggal di Jalan Demang Lebar Daun Palembang.

Terakhir, aksi begal geng motor ini dilakukan terhadap korban Ade di wilayah hukum Sukarami Palembang, Minggu (14/8) malam.

Dari informasi yang diberikan para tersangka, selain merampas sepeda motor, keempatnya juga tak segan-segan melukai korban dengan senjata tajam.

Tersangka MRZ yang berstatus sebagai panglima Genk Pelor berdalih baru satu kali membegal. Selama ini, komplotannya yang berjumlah puluhan anak-anak muda itu hanya terlibat dalam aksi tawuran sesama geng motor atau suporter sepak bola.

“Kamu memang sering tawuran, karena kami juga suporter bola, tapi kalau membeg kami baru satu kali pak” ungkap tersangka MRZ di Mapolda Sumsel, Kamis (18/8).

Masih dikatakannya, untuk merekrut anggota Genk Pelor, dirinya memberlakukan aturan seperti organisasi resmi, seperti kartu identitas dan tidak tergabung dalam geng motor lain. Calon anggota juga wajib membayar iuran Rp 15 ribu dan bersedia melaksanakan perintah atasan termasuk melakukan aksi kejahatan.

“Siapapun boleh gabung tapi intinya tidak boleh ikut geng lain, karena kami takut anggota kami jadi mata-mata,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel Kombes Pol DTM Silitonga mengungkapkan, berdasarkan dari hasil penyelidikan, dugaan sementara Genk Pelor sudah beberapa kali terlibat aksi begal disertai kekerasan terhadap korbannya. Hingga kini pihaknya masih memburu sejumlah komplotannya yang lain termasuk melakukan pencegahan bebasnya geng motor agar tak terjadi kembali kekerasan terhadap aksi begal.

“Anggota geng motor itu ada yang masih sekolah dan putus sekolah, rata-rata di bawah umur, kami juga masih memburu anggota yang lain karena takut yang lain akan melakukan tindakan kekerasan,” ujar Silitonga.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 365 KUHP dengan ancaman pidana maksimal sembilan tahun penjara dan diadili dalam peradilan anak sesuai KUHAP. “Karena mereka ini masih anak-anak, jadi tidak ditahan. Tapi proses hukumnya tetap berjalan,” pungkasnya. (korankito.com/kardo)