Jukir Liar Resahkan Mahasiswa UIN RF

IMG-20160810-WA0042

Palembang – Aksi juru parkir liar yang terjadi di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang membuat mahasiswanya resah. Parkir liar di kampus beralmamater hijau itu semakin hari semakin menjadi-jadi  sejak masuknya musim penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2016, dan hingga kini hal tersebut masih terus berlanjut hingga menimbulkan keresahan diantara para mahasiswa.

Keresahan mahasiswa UIN akibat parkir liar tersebut, mendapat sorotan Rektor UIN Raden Fatah Palembang Sirozi. Menurut pengakuannya kampus UIN Raden Fatah tidak pernah sekalipun melakukan penerapan iuran parkir kepada Mahasiswa.

“Semua tempat di lingkungan UIN saat ini tidak ada pungutan apapun (gratis), bahkan pihaknya telah melakukan koordinasi bersama pihak Bintara bahwa parkir di lingkungan UIN ini tidak dipungut uang parkir. Jika mahasiswa diminta untuk membayar parkir, jangan mau membayar, karena Universitas tidak pernah menerapkan untuk membayar iuran parkir, jika mereka (oknum pungli) memaksa bayar tolong laporkan kesaya!, Laporkan pada pihak Rektorat, melalui wakil rektor 2. Sebab  yang bertanggung jawab atas perparkiran dan keamanan adalah warek2,” tegas Sirozi di ruang kerjanya, Rabu (10/08).

Dari pantauan koran kito indikasi bahwa pungutan liar tersebut diizinkan oleh orang dalam UIN sendiri dibantah keras oleh Sirozi. “Tidak ada orang UIN terlibat, semunya murni pihak luar,” bantahnya dengan sesikit berang mendengar desas-desus yang tidak enak didegar telinga.

Dijelaskan Sirozi, memang saat ini permasalahan parkir masih menjadi pikiran, bagaimana menerapkan sistem yang tepat untuk parkir di UIN ini sendiri. Masalahnya, jika pihaknya menggunakan jasa tukang parkir yang profesional kita harus memikirkan angggarannya.

“Yang pasti, saat ini kita memiliki 8 orang tukang parkir, yang disebar diberbagai titik. Meski dari segi personel belum begitu berpengalaman,” bebernya.

Memang ada rencana untuk kerjasama dengan pihak ketiga. Orang nomor satu di UIN yang juga merangkap sebagai dewan pendidikan Sumsel ini sangat Ingin sekali melibatkan hal ini pada perusahaan parkir yang profesional. Tapi ya tentu ada dananya, sementara kita belum dapat memastikan jika hal ini berlakukan, maka mahasiswa kita akan siap. Meski di sebahian kampus lain sudah ada yang menerapkannya. Ungkapnya.

“Jika sistem parkir yang dilakukan dengan sistem berbayar, maka harus ada jaminan bahwa kendaraan itu aman. Jika ada kehilangan situkang parkir atau pengelola parkir harus ada ganti ruginya,” pungkasnya. (korankito.com/eja)