SMK Sumsel Jalin Kerjasama Dengan Perusahaan Asing

IMG-20160803-WA0001

Palembang – Tahun pertama kerjasama antara Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Sumatera Selatan (Sumsel) dengan perusahaan asing dari Jepang, PT. Cakra Indo Pratama yang berada di Kota Palembang terbilang sukses.

Dari 10 orang, terpilih 4 orang siswa SMKN Sumsel untuk mengikuti pelatihan dan bekerja diperusahaan tersebut. Keempat alumni SMKN Sumsel ini terpilih berdasarkan seleksi yang sangat ketat oleh pihak perusahaan.

“4 murid SMKN Sumsel yang terpilih oleh perusahaan asing ini dilatih selama 10 hari di Jepang dan mendapat pangilan kerja di perusahaan tersebut yang bergerak dibidang permesinan,” jelas Rafli kepada media ketika dijumpai di ruang kerjanya di SMKN Sumsel pagi ini, Rabu (03/08).

Dikatakannya, mereka adalah lulusan terbaik dari angkatan 2015/2016 jurusan teknik permesinan. “Ini adalah tahun pertama menjalin kerjasama, diharapkan jika ini dapat berkelanjutan. Tentu saja yang dikirim untuk mengikuti seleksi adalah siswa pilihan yang terbaik dibidang pelajaran dan kedisiplinan,” beber dia.

Selama pelatihan di Jepang, mereka dibiayai oleh perusahaan. Sepulangnya dari Jepang awal Juli lalu mereka sudah terikat kerja dengan perusahaan tersebut dan mendapatkan upah sebesar 2,2 juta rupiah. Dijelaskannya, jika upah yang diterima oleh siswa tersebut masih belum maksimal dikarenakan mereka belum bekerja sepenuhnya di perusahaan tersebut.

“Semua biaya ditanggung oleh perusahaan. Saat ini mereka telah menerima upah 2,2 juta rupiah sembari menunggu project kerja dari perusahaan, ketika mereka sudah memulai bekerja penuh maka gajinya juga akan disesuaikan dengan standar perusahaan.

Berangkatnya saat bulan puasa kemarin. Lanjutnya, pertengahan Juni lalu mereka memulai pelatihan di Jepang selama 10 hari dan saat ini mereka sudah berada di Palembang dan telah bekerja di perusahaan tersebut, namum belum ada project yang dikerjakan. “Terhitung 1 September nanti mereka akan menerima gaji pertamanya,” kata Rafli.

Selain itu, menurut penjelasan Rafli, sejauh ini sudah ada 20 perusahaan yang menjadi tempat praktek siawanya. Untuk pembelajarannya sendiri di sekolah 70 persen praktek dan 30 persen belajar teori.

“Sarana dan prasarananya cukup memadai walaupun ada beberapa alat yang usianya cukup tua. Harapannya, perusahaan tempat mereka praktek dapat menjadi tempat mereka bekerja juga,” pungkasnya. (korankito.com/eja)