Sekolah Dilarang Jual Buku

IMG-20160714-WA0006

Palembang – Sekolah dilarang menjual buku, ketentuan ini sudah berlangsung sejak diresmikannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 2 tahun 2008 silam.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Drs. Widodo, M.Pd megatakan, kalau pihaknya melarang keras kepala sekolah termasuk guru-gurunya untuk menjualkan buku pelajaran kepada siswa.

“Pihak sekolah maupun guru tidak boleh jual buku, tapi jika hanya merekomendasikan buku pelajaran itu boleh-boleh saja asal keputusan untuk pembelian tetap dikembalikan kepada orangtua siswa. Intinya, tidak boleh ada sekolah yang menjual buku atau ada pungutan, kalau ada anak tidak sekolah gara-gara tidak bisa membeli buku atau ada pungutan maka sekolah itu salah dan harus segera dilaporkan kepada kami,” jelas Widodo di ruang kerjanya di Disdik Sumsel di jalan Kapten A. Rivai, Rabu (03/08).

Apalagi menjualkan buku secara paksa dengan memberikan buku tersebut ke siswa, itu dilarang. Lanjutnya, terhadap siswa yang kurang mampu maka sekolah bisa menggunakan buku pelajaran yang disediakan oleh pihak Disdik Sumsel secara gratis.”Anak yang mampu silahkan beli sendiri bukunya, ini tujuannya agar jangan sampai anak tidak masuk sekolah karena tidak mampu beli buku,” tegasnya.

Kepada Koran kito dirinya mengaku, materi buku bisa di dapatkan dimana saja termasuk di internet. Jika masyarakat menemukan sekolah atau guru melakukan aksi jual buku di sekolah dipersilahkan lapor Disdik setempat.

Sementara itu, Wakil Kepala SMP Negeri 19 bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Parman mengatakan, informasi yang mengatakan pihaknya menjual buku tidak benar. Pihaknya juga mengetahui tentang larangan menjual buku disekolah dan juga siswanya membeli buku dari luar.

“Kita tidak pernah mengadakan bazar, apalagi menjual buku. Kita tahu, tidak boleh menjual buku disekolah, dan pihak sekolah juga tidak pernah mengatur penjualan buku karena tidak diwajibkan. Jika ada penerbit buku disini barulah mereka bisa lihat-lihat, dan itupun dilakukan di depan gerbang sekolah. Mau beli atau tidak terserah siswanya,” pungkasnya. (korankito.com/eja)