Bisa Dipercaya

STR Wajib Bagi Tenaga Kesehatan

UJi kompetensi

Palembang – Tenaga kesehatan yang baru saja lulus atau yang baru selesai diwisuda harus mempunyai atau mengurus Surat tanda registrasi (STR) yang merupakan bukti tertulis, dimana STR itu diberikan oleh pemerintah  kepada tenaga kesehatan yang telah memiliki sertifikat kompetensi.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala seksi registrasi dan akreditasi Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, dr. Widya Anggraini Mars, Senin (25/07)  menjelaskan jika tenaga kesehatan yang lulus mulai tanggal 1 agustus 2013 lalu diwajibkan untuk mengurus STR agar bisa memberikan pelayanan kesehatan dan menangani pasien, STR juga adalah syarat mereka untuk melamar pekerjaan.

Berita Sejenis

Meilia : Utamakan Penunjang Akademik Mahasiswa

Innalillahi, Kepala DPMDP3A Empatlawang Tutup Usia

Aline Adita Umumkan Tanggal Pernikahan

1 daripada 3.099

“Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas layanan kesehatan (Fasiankes), harus  memiliki STR. Selagi dia menerima pasien harus berkewajiban punya STR,  kecuali tenaga kesehatan yang bekerja secara struktural misalnya di dinas tidak perlu dia punya STR,” beber dia.

Syaratnya mudah kok. kepada Koran kito Widya mengungkapkan, untuk mengurus STR cukup mudah dengan melengkapi persyaratannya, yakni fotocopy Ijazah pendidikan terakhir, bukti lulus uji kompetensi, foto 4×6 sebanyak dua lembar dan membayar uang registrasi sebesar 100 ribu rupiah per tenaga kesehatan.

“Persyaratannya itu gampang, tetapi untuk melakukan proses administrasi STR harus lulus dulu ujian kompetensi. Nah, disinilah yang terkadang menjadi kendala yang dihadapi oleh tenaga kesehatan. Hal ini dikarenakan  banyak yang tidak lulus, hingga saat ini kami tidak punya kewenangan untuk mengatasi permasalahan ini, karena belum ada aturan yang melarang  batasan-batasan tenaga kesehatan untuk ikut ujian berapa kali untuk mendapatkan STR,”  tegasnya.

Menurutnya, ujian kompetensi tersebut diselenggarakan oleh pihak ketiga. “Saran dari kami untuk tenaga kesehatan yang ikut ujian, untuk memperbanyak latihan dan mengerjakan soal try out yang resmi walaupun nanti soalnya tidak sama persis tetapi sebelumnya kita sudah mendapatkan gambaran,” terang dia.

Dari pantauan Koran kito, untuk pelaksanaan ujian kompetensi secara keseluruhan dalam tahun 2016 ini berjalan sebanyak dua kali yaitu pada bulan Maret dan September, untuk pengumuman hasil ujian dapat diketahui satu minggu setelah ujian kompetensi dilakukan. Kendala lain yang seringkali dihadapi oleh tenaga kesehatan untuk mendapatkan STR adalah lamanya proses verifikasi data di majelis tenaga kesehatan Indonesia (MTKI), karena terlalu banyaknya data tenaga kesehatan yang mengikuti ujian kompetensi tersebut dari berbagai daerah di Indonesia.

“Terkadang yang menjadi sandungan adalah bukti pembayaran registrasi di bank karena kebanyakan dari mereka melakukan transfer via ATM dan di MTKI itu tidak bisa diproses harus langsung bukti slip setor dari bank, kalaupun via ATM harus minta bukti slip koran kepada bank yang bersangkutan,” tegasnya.

Selain itu, proses pembuatan STR memang memerlukan waktu yang cukup alot, setidaknya paling cepat  STR akan kelar setelah enam bulan dari proses pengiriman berkas administrasi ke MTKI. “Prosesnya paling cepat 6 bulan dan kadang juga bisa lebih, bahkan ada yang setahun. Untuk itu ada edaran dari kemenkes bagi tenaga kesehatan yang STR-nya sedang diproses dan mereka mendapat rekomendasi untuk praktik atau menjadi bidan PTT itu tidak masalah tetapi tergantung dengan kebijakan rumah sakit yang dinaungi,” ungkapnya.

Lain halnya bagi tenaga kesehatan yang masa berlaku STR-nya telah habis, Widya menjelaskan jika STR tenaga kesehatan tersebut harus diperpanjang dengan melakukan re-registrasi. “Kalau kadaluarsa ya harus diperpanjang. Persyaratannya juga sama saja dengan sebelumnya, tetapi tambahan satu lagi yaitu harus ada point SKP sebesar 25 point yang ditetapkan oleh organisasi profesi masing-masing. Untuk mendapatkan ini tidak harus mengikuti seminar berturut-turut, tetapi bisa dengan kegiatan sehari-hari dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” tuturnya.

Untuk proses selanjutnya, MTKI nanti akan melakukan verifikasi dan konfirmasi ke organisasi profesi yang memberikan point tersebut. “Yang menyebabkan STR itu lama, ya itu tadi proses verifikasi datanya, jadi kita ambil inisiatif untuk mengumpulkan berkas STR secara kolektif agar lebih mudah mengkonfirmasi prosesnya sudah selesai atau belum,” pungkasnya.

(korankito.com/eja)