Bidan Indonesia Siap Hadapi Tantangan MEA

ibi

Palembang – Peranan Persatuan Ikatan Bidan Indonesia Sumatera Selatan (IBI Sumsel) dalam memberikan pelayanan berkualitas dan pengetahuan mengenai kesehatan merupakan hal penting bagi masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua IBI Sumsel, Siti Aisyah yang mengatakan bidan sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk memberikan asuhan dan arahan bagi ibu-ibu hamil, melahirkan dan program keluarga berencana.

Saat ini jumlah bidan yang ada di Sumsel sebanyak 12.000 bidan. Untuk bidan yang tercatat sebagai anggota IBI sebanyak 8.968 bidan. “Kita sudah ada 8.968 bidan yang terdaftar dan bergabung dalam IBI Sumsel.sisanya ada 4.000 bidan yang sedang dalam kepengurusan Surat Tugas Registrasi (STR) ,” ungkapnya saat menghadiri peringatan HUT IBI yang ke-65, Kamis (21/7).

Menurut Aisyah untuk mempersiapkan bidan yang handal dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat khususnya ibu hamil, dan peserta KB perlu diberi pembekalan seperti seminar-seminar.  “Untuk Bidan desa saat ini sedang ujian PTT pusat, mudah-mudahan bisa dijadikan pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan demikian semua  keluhan keluhan itu sudah terjawab, sekarang ini tidak ada masalah lagi,” urainya.

Lanjut Siti Aisyah, IBI bertugas memantau bidan-bidan dan memberikan pembinaan. Selain itu juga tugas IBI Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga mereka bisa memberikan asuhan yang dibutuhkan oleh ibu-ibu di Sumsel dalam konteks hamil, melahirkan, Nifas dan KB.

“Tantangan untuk IBI juga kita jadikan peluang, yang diisukan akan datang bidan dari luar negeri dengan adanya kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Jadi untuk dapat bersaing kita akan menyiapkan kemampuan tingkat pengetahuan, keterampilan, kemampuan berbahasa inggris sehingga kita tidak takut untuk bersaing,” Ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Kadis Prov Sumsel), Lesty Nuraini mengatakan melalui  tema ‘Penguatan Peran Bidan Dalam Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Untuk Mendukung Pencapaian SDGs’, Bidan yang ditempatkan harus tetap berada di tempatnya, sebab kalau tidak maka tidak bisa dekat dengan masyarakat serta bertugas dengan baik.

“Bidan ini sangat berperan dalam angka  penurunan angka kematian ibu maupun balita. Di Sumsel tingkat kematian ibu dan balita cukup tinggi dimana tahun lalu terdapat 165 kasus. “Jadi kita harus semakin memeratakan pelayanan kesehatan, agar kedepannya bisa zero kasus kematian ibu dan bayi ” jelasnya.

Ditambahkannya, persalinan harus ditangani oleh tenaga kesehatan. Kita sebagai pemerintah mempunyai tugas memberikan fasilitas kepada masyarakat seperti puskesmas, bidan desa, rumah sakit, poskesdes. Semua fasilitas tadi harus dilengkapi dengan peralatan standar, untuk tenaga harus profesional dan bekerja ikhlas.

“Idealnya satu bidan itu untuk 1000 penduduk, sedangkan penduduk kita ada delapan juta jiwa dan kita punya bidan 12.000 orang  itu lebih dari cukup. Hanya saja kadang terjadi mal distribusi, jadi harus ditata kembali pendistribusian dan penempatannya,” ungkap Lesty Nurainy.

“Kita ingin menjadikan Sumsel menjadi daerah Medical Tourism, tidak pergi ke Malaysia dan Singapura cukup di Palembang. Untuk menghadapi MEA kita tidak perlu takut menghadapinya, kalau kita profesional,” harapnya. (korankito.com/ria).